Rabu, 16 September 2009

pintu 17, hidup itu kemping bagian 2

hidup itu kemping
perjalanan serba sementara
perjalanan mengira-ngira
belajar dari tenda ke tenda
belajar dari angka ke angka
belajar dari lupa ke lupa

..............

hujan ternyata rada lama turunnya meskipun tidak besar. rencananya kalau tidak hujan kami mau langsung bikin perapian dan masak di situ. maksudnya biar irit parafin bahan bakar yang mirip lilin itu. takut di gunung parafinnya tidak cukup karena belinya terbatas. harganya ternyata sudah naik lagi.

ya, kemarin aku, ijo, dan opik membeli parafin di toko sumatra jalan a yani sepulang sekolah. toko sumatra adalah toko-toko yang jaman itu menjual berbagai macam keperluan kepramukaan. termasuk tanda-tanda lokasi sekolah atau lambang-lambang yang biasa dijahit di seragam baik seragam sekolah ataupun seragam pegawai.

dari sekolah kebetulan toko ini tidak terlalu jauh. hanya beberapa kali nafas dan nyebrang dua kali. makanya kami berjalan santai saja di tengah terik matahari. langsung menyeberang di depan gerbang sekolah yang berhadapan dengan toko citra, sebuah toko yang menurut ugun aneh sekali. tokonya nggak rame padahal terletak di tempat yang strategis. ruangannyapun luas seperti toko merdeka jaman itu. ada tingkat satu dan tingkat duanya. konsepnya swalayan. pelayannyapun teteh-teteh yang manis-manis. sepengetahuanku sejak dari pertama dibuka hingga sekarang toko ini selalu saja sepi.
" menurut aku, toko ini sepi gara-gara pelayannya ", ujar ugun suatu ketika sepulang kami diklat basket sore-sore di sekolah.
" emang kenapa?"
" lihat aja, pelayannya pada berdiri di muka toko... kita baru datang aja udah langsung dilayani ini itu..."
" kan malahan bagus..."
" tapi pembeli jadi segan, yan. apalagi yang niatnya cuma mau lihat-lihat dulu....toko-toko kan biasanya rame bukan karena banyak yang beli. tapi banyak yang lihat-lihat. cuci mata. window shopping !" jelas ugun panjang lebar.
" ya, terus...?" aku belum ngerti juga.
" kalo banyak pengunjungnya, walaupun gak beli sering disangka barang-barangnya bagus atau murah... makanya orang pada berdatangan ke situ...dan kadang-kadang yang mulanya gak niat beli bisa jadi beli"
iya, juga ya. pengalaman aku juga gitu. keluar masuk toko cuma lihat-lihat harga saja. beli mah kapan-kapan.

tapi kalau sekarang aku, opik, dan ijo sedang termangu di sebuah kios pedagang kaki lima emang beneran cuma berniat lihat-lihat saja. dasar opik, di tukang jeroan ( daleman ...daleman... buat cewek !) yang mangkal di depan toko sinar timur. diajaknya kami bertukar pendapat.
" koleksinya nambah, jo....!" kata opik
" iya, kayaknya yang di atas itu bagus, pik!"
sialan ! opik dan ijo kini malah mengomentari bh yang digantung si mang tukang jeroan di rak kayu sederhana itu.
" yang itu unik... ada rendanya..."
" ini dong.... ukurannya jumbo...."
lalu ketawa-ketawa. tuh, kan. iseng banget.
" sok, mau beli yang mana jang...?" sebuah suara mengagetkan. ternyata si mang jeroan udah ada di samping kami.
" nggak...nggak... cuma ngecek aja...!" sahut opik antara malu dan menahan tawanya. aku juga jadi ingin ketawa tapi ditahan, takut si mangnya malah kesinggung.
" hebat lah si mang...koleksinya nambah terus...!" sambung ijo
" eh, jangan ngehina...!" si mang malah kesinggung beneran.
" nggak kok..mari mang, makasih....." tukas anak-anak langsung cabut

kamipun berjalan lagi. anggap saja hiburan, kata opik tadi. hiburan apaan ? malu nih malu. kasihan juga tukang dagangnya dilecehin gitu. tapi ijo dan opik masih ketawa aja hingga sampai di toko sumatra. membeli barang yang diinginkan yaitu parafin.
" harga pas...!" sahut pelayan toko saat kami menawar.
akhirnya kamipun harus rela dengan harga yang ditawarkan karena toko yang menjual parafin memang hanya itu satu-satunya.

***

dan kini dua buah balok kecil parafin sudah terpakai untuk memasak nasi di dalam tenda. karena hujan belum reda maka kami memasak nasi di dalam tenda. panci ijo yang sudah hitam pantatnya jadi andalan utama saat itu (nb : perhatikan cara baca dan jeda tiap kata, tahu kan, maksudnya bukan pantat ijo yang hitam, tapi pantat panci...maklum, itu emang khusus panci kemping, kata ijo). kamipun berharap-harap cemas menunggu kematangan nasi liwet cap kemping itu. mungkin inilah makan sore pertama di tengah gunung.
" pake garam jo....!" usulku.
" gak usah, ..enggak enak !"
akupun diam aja. membiarkan ijo sendirian memasak nasi. a firman dan ombi udah ketiduran. mungkin terjebak di antara cape dan lapar. ugun sibuk memutar-mutar gelombang radio. a asep sedang di luar dengan jas hujan yang dibawanya membetulkan tenda yang tadi sempat kena angin serta air hujan yang terkumpul di atas tenda. dia juga mengencangkan tali-tali pengikat tenda. kini tenda lumayan nyaman ditempati meskipun kami harus berdesak-desakan. ya, dipas-pasin dan dienak-enakin aja. namanya juga kemping.
" udah berhenti hujannya...!" a asep berseru dari luar.
aku keluar tenda. hujannya sudah berhenti. hanya tinggal kabut dan dingin saja. tapi udara jadi segar.
" yan, cari ranting....!" perintah ijo yang juga keluar dari tenda. nasi dalam panci yang belum matang dibawanya keluar. lalu kompor parafin yang masih nyala. kini dia memasak nasi di luar tenda.
" ayo gun, nyari ranting....!"
ugun mengambil golok yang tergeletak di tanah. aku dan ugun menembus semak-semak di sekitar kami mendirikan tenda. ya, yang dekat-dekat aja. kalau kejauhan mah takut juga.
" yang kering, ya....!" ijo berseru lagi
" yang kering ? nggak ada atuh jo.. pada basah nih...." sahut ugun
" seadanya ya...?"
tapi ijo tidak menjawab. kini dia sibuk menutup perapian kompor parafinnya dari angin yang menghembus. ah, bentar lagi masak nih nasinya. habis ini bikin perapian.... bikin kopi. sambil ngerokok, pikir ijo.

***

meskipun dalam urusan naik gunung ijo sudah setengah profesional, tapi dalam masak memasak ilmunya masih belum seberapa. terbukti, anak-anak tadi cuma disuguhi nasi liwet setengah jadi. istilahnya masih 'gigih'. mungkin kebanyakan air. ijo juga sempet mikir, kenapa airnya gak kering-kering. jadinya gitu deh, atasnya belum matang sementara bawahnya gosong. itulah pencapaian maksimal seorang ijo dalam hal masak nasi di hari pertama kemping bersama kami.

untungnya ijo gak hilang akal. nasi yang setengah matang itu langsung ditaburi supermi kering yang diremes-remes plus bumbu plus minyaknya. seterusnya ijo dengan kalap mengaduk-aduk nasi aneh itu. eksperimennya tak berhenti di sana. ikan asin yang dibawanya dari rumah ditaruh di atas nasi ajaib itu. setelah dirasa cukup, barulah ijo menghidangkan kreasinya yang entah diilhami acara tivi mana itu.

kini anak-anak sedang berusaha mencerna makanan itu. namanya juga kelaparan, makanan seancur apapun masuk ke perut dengan tidak mempedulikan bagaimana nantinya.
" pingin yang enak-enak mah , di rumah aja....!" selalu begitu alasan ijo saat anak-anak tadi mengkritik habis kreativitasnya.
" gak apa -apa sih, minimal masih ada rasanya....," a asep sedikit membela ijo. tapi, enak juga pikirnya. dan dengan tanpa dosa dia menghabiskan sisa nasi yang berupa kerak gosong di atas panci.

aku membereskan alat-alat makan tadi : panci yang bawahnya tambah hitam, piring plastik yang tak seragam, dan beragam ukuran sendok. bersama ugun aku turun ke bawah untuk membersihkannya. udara dingin tak kami hiraukan. yang penting perut sudah terisi nasi. sebentar lagi magrib akan datang. langit beranjak gelap.
" sekalian ambil air bersih...!" seru a firman dari atas.
" tempat airnya....!!" sahut aku dan ugun.
" awas.... tangkap...!" a firman melemparkan botol air mineral kosong ukuran satu liter.
ugun dengan sigap menangkapnya. ugun bergegas mengisinya dengan hati-hati agar tidak ada kotoran atau pasir yang masuk.

air sungai yang kami gunakan merupakan aliran dari curug citiis. airnya masih jernih. kata wildan bisa diminum langsung tanpa direbus. hanya saja kalau sudah ke hilir seperti tempat kami berkemah ini agak riskan juga. siapa tahu di hulu, di dekat curugnya telah digunakan orang untuk berkegiatan. ya, meskipun kelihatan bening dan menyegarkan mungkin saja telah dikotori manusia-manusia yang kemping di atas. makanya kami gak berani minum air itu secara langsung tanpa merebusnya. kecuali ijo, " kalau mau yang yang mateng mah di rumah aja...!" dan langsung meminumnya tanpa keraguan. lalu, " seger...!" sambungnya dengan mimik kayak iklan-iklan minuman di tivi swasta. mungkin kalau dari mata airnya langsung atau dari air terjun kami masih mau meminumnya langsung. berhubung air ini sudah mengalamai perjalanan cukup panjang dan tidak dijamin di perjalanan tidak kena kotoran manusia maka kami waspada dengan cara merebusnya. biarlah ijo saja yang jadi korban sakit perut dengan kenekadannya itu.

"Allohu akbar..allohu akbar....!" tiba-tiba terdengan orang beradzan. fals dan seadanya dengan tanpa mikropon. ternyata a asep sedang berdzan karena waktu magrib telah tiba. sayup-sayup memang terdengar suara dzan dari kampung terdekat dengan kami berkemah.
" sekalian wudhu aja, gun....!"
anak-anak lainpun pada turun ke air sungai untuk berwudhu. hanya a asep dan ijo saja di atas. a asep meneruskan adzannya hingga selesai, sementara ijo sibuk membuat perapian lain, untuk membuat air panas dan juga api unggun. sayangnya, ranting-ranting yang dibakarnya masih basah. makanya agak susah juga dia membuat perapian bahkan hampir lupa shalat magrib kalau tidak diingatkan.

**
tim ekspedisi nasi liwet remes mie instan.... dalam hujan... terasa nikmat semuanya

setelah shalat berjamaah secara sederhana, kamipun berkumpul di depan api unggun sambil menunggu air panas yang belum mendidih. rencananya mau bikin kopi. wah, asyik pisan. tapi, berhubung rantingnya basah, apinya susah naik. untungnya kami cukup bersabar. sempat juga ombi nanya ke ijo, " kenapa gak pakai parafin aja biar cepet, jo...?"
" harus irit, mbi....parafin nanti digunakan kalau darurat...!" sahut ijo.

orang sabar memang biasanya berhasil. seperti kami yang saat itu akhirnya bisa juga menyeruput kopi dengan rasa yang lumayan untuk ukuran gunung. jangan disamakan dengan kopi butan rumah deh. pasti jauh. tapi yang lebih penting kan suasana. tujuan kami berkemah di tempat yang jauh dari rumah kan salah satunya membeli suasana seperti ini : hening sepi, dingin, gelap di sekitar, cemas kalau-kalau turun hujan lagi, kerja sama tim, dan sedikit tegang.

dengan kemping juga kami sedikit beban pelajaran yang dirasa-rasa semakin sulit. lupa dengan omelan bu marni kalau ada anak yang tak buat pr yang kadang merembet ke semua anak. lupa dengan ulangan-ulangan yang bikin kelimpungan. lupa dengan suasana kelas yang sering bikin suntuk. pokoknya dengan kemping kita lupakan status kita sebagai pelajar, hari ini dan dua hari ke depan kita posisikan diri sebagai pelarian yang sedang mencari kebebasan di alam liar.

juga mencoba hal-hal yang baru. yang belum 'begitu' boleh. seperti,
" isap dulu...., baru minum kopinya... jadi gak pahit....!" ijo membagikan ilmunya. kali ini pelajaran bagaimana caranya agar tidak kedinginan di gunung secara praktis : merokok.
" ah, pahit...!" jawabku. ugun dan ombi juga merasakan hal sama. secara cuma kami bertiga yang sedang belajar smoking. maka ijo melanjutkannya ke sub bab 'bagaimana agar merokok di gunung tapi tidak pahit untuk pemula'. pelajarannya ya itu tadi.
" coba... isap yang dalam..... keluarkan asapnya dari idung...., langsung minum kopinya....enak kan....gak pait....!" ijo kembali mengajari.
kamipun mencobanya. uhuk..uhuk... aku batuk. ombi dan ugun lancar. lali menyeruput kopi yang masih panas itu. sruuttt... enaknya kopi manis.

" kalo di gunung jarcok lebih cocok..." jelas ijo sambil mengeluarkan asap rokok.
kami para amatiran merokok cuma ngangguk-angguk aja. jarcok adalah nama merek rokok yang kami isap di gunung ini. sayangnya ijo tidak menjelaskan lebih lanjut kenapa jarcok yang pas untuk di gunung. apakah karena ijo adalah seorang salesman rokok jarcok?
" harganya murah,....jadi bisa beli banyak...!" a firman yang menjelaskan.
" kalo gitu, kenapa tidak bakao sama pahpir aja jo...?" tanyaku
" itu juga bawa..... tapi nanti kalau darurat..."

sambil merokok dan ngopi kami memandang ke bawah, ke arah kota yang sudah bermandikan cahaya lampu. indah sekali dengan kelap-kelip seperti perhiasan. konon bung karno menamai kota ini kota intan di tahun enam puluhan karena kerlipnya yang menakjubkan ini. kamipun, meski jauh dari rumah dan beberapa puluh meter di atas permukaan laut dengan melihat kota yang bercahaya merasakan dekat sekali dengan rumah. apalagi sambil mendengarkan radio siaran request lagu-lagu.

" lihat, yang warna merah itu...!" a asep menunjukkan sesuatu di arah kota.
" itu apa a..!" tanya kami penasaran.
" itu toko asia...!"
" kalau yang merah ?"
" itu mah masjid agung....!"
malam itu kami lalui dengan ngobrol-ngobrol segala macam. termasuk rencana esok hari yang katanya mau menuju ke curug citiis tingkat tiga. tempat yang paling ramai dikunjungi orang-orang yang piknik. kalo sempet mau naik lebih atas lagi. nyari edelweiss liar.

" tidur ah......" ombi masuk.
" isya dulu mbi...! seru a asep.
" tadi udah di jama...!"
" emang bisa kitu....? ini mah bukan perjalanan...."
" ah, udah tanggung..." ombipun dengan selimutnya yang dari tadi dipakainya untuk menahan dingin meneruskan niatnya. capek juga ya, tidur pasti enak. dia langsung merebahkan tubuh.

ya, semua merasa cape. tubuh kumayan pegel-pegel. ijo mengambil cempor dan dinyalakannya. lalu dia menggantungnnya dengan hati-hati di bambu penahan tenda. a firman dan ugun juga udah masuk ke tenda. di susul ijo. posisi menentukan prestasi. dengan tenda yang sempit memang harus berbagi tempat dengan yang lain. tapi biasanya yang tidur duluan tak bisa diganggu gugat.

makin lama makin dingin. tak ada alasan berlama-lama di luar tenda. akupun gabung dengan anak-anak berdesakan dalam tenda. hiih... dingin uy....

" aduh... kakiku keinjek...."
" sorry mbi...sory..."
" tidurnya gak enak uy... keras..."
" pingin enak mah.... di rumah aja...."

***

5 komentar:

erwansubagyo mengatakan...

Lokasi photo banner itu di Tanggung Harjo, Grobogan ya Mas?

erwansubagyo mengatakan...

Lokasi photo banner blog ini di Tanggung Harjo, Grobogan ya Mas?

senjaklasik mengatakan...

bukan mas.... ini di bandung... pandung pinggiran...tepatnya di stasiun cimekar, stasiun kecil dekat perbatasan dengan kabupaten bandung.... maaf baru dijawab... blog saya lama tidak diupdate... thanks...salam kenal...

senjaklasik mengatakan...

bukan mas.... ini di bandung... pandung pinggiran...tepatnya di stasiun cimekar, stasiun kecil dekat perbatasan dengan kabupaten bandung.... maaf baru dijawab... blog saya lama tidak diupdate... thanks...salam kenal...

senjaklasik mengatakan...

bukan mas.... ini di bandung... pandung pinggiran...tepatnya di stasiun cimekar, stasiun kecil dekat perbatasan dengan kabupaten bandung.... maaf baru dijawab... blog saya lama tidak diupdate... thanks...salam kenal...