Rabu, 12 Agustus 2009

pintu 9, sabtu malam minggu




sabtu sepertinya merupakan hari yang sangat dinantikan oleh semua anak sekolah. tak peduli dia anak tk, sd, smp, apalagi sma. atau bahkan bagi para karyawan, pekerja kantoran, dan para bos perusahaan. sabtu bagi pelajar di jamanku, sering diidentikkan dengan harinya baju pramuka karena pada hari itulah kita disarankan setengah diwajibkan untuk memakai baju pramuka sehari dalam sepekan. makanya jangan heran kalau hari sabtu pastilah setiap pelajar memakai baju pramuka, atasnya coklat muda dan bawahnya coklat tua.

"yan, kenapa baju pramuka warnanya coklat ?" suatu ketika ijo yang pramuka mengetesku di hari sabtu. aku yang ketika sd dan smp emang gak pernah ikut kegiatan pramuka cuma menggeleng. dalam hati, who care? bukan urusan aku. cuma aku memang senang tiap sabtu harus pake seragam pramuka karena seragam biru putihku di akhir-akhir pekan sering udah kotor. terutama bagian atas kerah yang sering kotor akibat keringat.

" nggak tahu ya,..?" ijo semakin si atas angin demi melihat sobatnya ini buta tentang pramuka. ya, aku memang kurang senang pramuka-pramukaan. yang aku senang di pramuka hanyalah acara kempingnya. itupun dengan catatan kalau nggak ada acara lomba-lombaan yang biasanya diakhiri dengan hukuman bagi the loser yang kalau nggak nyanyi, ya joget. hiiy... mempermalukan diri sendiri. begitu pikiranku waktu itu. makanya mending nggak aja deh. dan akupun tidak bergabung dengan tim pramuka.

"nggak tahu? begini yan, kata 'kak haris 'itu dikarenakan warna coklat merupakan gabungan dari warna-warna darah para pahlawan kita, tanah, dan air. kalau dicampur warna-warna itu maka akan dihasilkan warna coklat seperti seragam pramuka sekarang ini" jelas ijo panjang lebar. entah benar entah enggak, aku belum pernah nekad mencampur darah dengan tanah dan air baik itu darahku atau darah ayam. dan entah apakah yang dikatakannya itu sabda ' kak haris' ataukah karangannya sendiri. sekali lagi itu gak penting. seenggak penting wajah ijo yang kelihatan puas banget telah memberi kuliah kepramukaan padaku. sementara aku hanya bilang 'ooooh' saja meski kurang yakin juga dengan penjelasan ijo, iya gitu?

" karena itu pramuka harus berjiwa pahlawan, pemberani dan senang berkorban !" sambung ijo semakin sok tahu. lha, kalau itu mah kayaknya bukan tugas pramuka aja. setiap orangpun diharuskan demikian tanpa harus jadi pramuka atau memakai seragam pramuka.

sudahlah, nanti-nanti kita cari tahu riwayat seragam pramuka yang lebih shahih lagi. yang jelas sabtu juga dinantikan anak-anak 'ditingker' karena, pertama biasanya waktu sekolah cuma 'setengah hari'. maksudnya kalau hari biasa non sabtu sekolah sampai jam setengah satu kurang lebih, tapi di hari sabtu cuma sampe jam sebelasan. kedua, karena besoknya bisa libur. kan minggu. dan di waktu-waktu tertentu sabtu bisa libur juga tanpa harus tanggal merah, misalkan kalau jum'atnya tanggal merah alias libur maka bagi kalangan tertentu di sekolah jum'at libur berarti sabtu bisa juga libur, istilahnya ditiir atau hari kejepit nasional. menurut penganut paham tiirisme ini sabtu boleh nggak sekolah, jadi hukumnya sunat. untung saja penganut paham tiirisme di sekolahku cukup sedikit. kalau banyak...apa jadinya generasi penerus bangsa?

sabtu malam rencananya anak-anak 'ditingker' mau pada ngumpul dan main ke luar. ya, bosan juga ngumpul-ngumpul di basecamp yang sekarang udah dinamai metal basecamp. metal base camp? iya, ide eka tuh. toh anak-anak termasuk yoga dan ijo setuju-setuju aja basecamp mereka dinamai begitu. akupun sempat menempelkan kertas bertuliskan 'metal basecamp' di salah satu dinding basecamp kami itu. oh ya juga, sementara ini penggemar ditingker baru dua orang yakni ijo dan yoga itu, itupun karena mereka sering ngumpul ngerjain tugas sekolah di pasundan. anak-anak kelas yang lain meskipun udah tahu bahwa di kelasnya sudah ada grup band tapi mereka cuek bebek aja. he he ternyata ngeband bagi mereka hal yang biasa banget. jadi malu, dulu-dulu pas mendirikan kita sok heboh. padahal.....

namun demikian meskipun cuma ijo dan yoga yang jadi fans, kami merasa bangga juga. malahan yoga pernah membela dithinker habis-habisan. seperti suatu saat di jam pelajaran oleh raga yang dilaksanakan di alun-alun yoga berseru," ey... nyontek thinker ! yan...opik... sini !"
aku melihat yoga sedang berdebat dengan yudi yang juga teman kami sekelas.
" ada apa..ada apa?" aku dn opik menghampiri mereka
" tuh di kantong yudi, nyontek thinker !" tunjuk yoga ke punggung yudi dimana tas gendong bertengger.
" enggak ah, enak aja....!" yudi berkelit
aku dan opik penasaran, melihat tas ransel yudi. oh...
" nyontek kan....?" ujar yoga keukeuh. ternyata di kantong yudi ada tulisan 'the zaker' dengan modifikasi tulisan mirip logo the thinker. sementara yudi juga keukeuh, " enggak ah...ini mah heureuy... bukan apa-apa"
" ey... nurutan, ini mah ampir sama dengan thinker kita yan !" seru opik yang sense of thinkernya tinggi kepancing juga. dia nggak rela thinkernya dibajak sedemikian rupa.
aku cuma mesem-mesem aja sementara yudi mukanya udah merah entah malu karena ketahuan atau entah apa. sejak saat itu kami tahu bahwa yoga cukup loyal sebagai fans meskipun gak ngarti banyak tentang musik. dan sejak itu pula yudi memproklamirkan diri sebagai pengkritik thinker nomor satu.

**

malam minggu, berarti sabtu malam. aku, opik, dan ugun sedang duduk dibawah tiang bendera alun-alun. padahal dingin dan padahal gelap, tapi kita gak peduli. harusnya kita berlima, tapi lagi-lagi eka yang jarang keluar malam dan ombi yang rumahnya agak jauh yakni di cangkuang tak bisa datang. jadinya cuma bertiga aja ngobrolin rencana-rencana band. sambil sesekali curhat masalah pribadi, masalah keluarga atau yang lainnya.

oh, ya sebelum ke alun kita sempat thowaf juga di pengkolan. maklumlah kota kami terlalu kecil untuk disebut kota. jadi kalau jalan-jalan ke kota artinya mutar-mutar hingga lebih dari dua balikan. start dari smpn 1, berjalan kaki hingga perempatan jl a yani jl barakatakyudha, nyebrang masuk ke asia, lihat-lihat barang tapi gak beli, keluar lagi. berjalan lagi hingga simpang ya yani ciledug. belok kiri, masuk toko nusantara, lihat-lihat kaset juga gak beli, kadang-kadang ke tempat permainan anak-anak dan main video gim. keluar lagi. terus nyebrang masuk toko merdeka. lihat-lihat sepatu atau apa, terus naik hingga ke lantai tiga. turun lagi dan main perosotan di pegangan tangga. lalu keluar dan belok kanan berjalan hingga pasar ceplak jalan siliwangi. nggak beli apa-apa meskipun para tukang makanan malam bejejer di situ. belok kanan lagi. masuk toko adidas, nanya harga bola basket dan lainnya tapi cuma beli klaber doang. keluar lagi belok kanan hingga perempatan a yani cikuray terus nyebrang mampir di budi suci. nanya-nanya harga gitar tapi gak beli juga. nyebrang lagi belok lagi di simpang a yani ciledug. jalan lagi. belok kanan lagi. begitu seterusnya dan orang-orang di kota kami merasa gak afdol kalau belum mengitari pengkolan lebih dari satu putaran.

dan yang lebih konyol lagi. orang-orang di kota kami termasuk kompak. begitu jam sembilan lebih dikit.... lessss....! tuh kota langsung sepi. orang-orang yang thowaf tadi begitu saja menghilang, maksudnya pulang kandang secara bersamaan. begitu juga toko-toko. mereka kompakan tutup. apalagi kalau hari hujan. bisa dipastikan kesunyian berlangsung lebih awal. paling yang setia bertahan para tukang makanan di ceplak yang beberapa saat kemudian juga membereskan dagangannya.

namun saat itu tidak sedang hujan dimana bassist, drummer, dan gitaris ditingker sedang bercengkrama di bawah tiang bendera. sebenernya bukan anak ditingker aja yang nongkrong di alun. ada juga beberapa aa-aa, remaja seumuran ditingker yang sedang nyemok alias ngerokok dan yang lebih gila ada beberapa anak sedang main bola. iya, main bola malam-malam. entah filosofi apa yang mereka pakai yang jelas ditingker tidak merasa terganggu dengan keberadaan mereka.

" selasa capcay, jadi ya ?" kata opik di satu pembicaraan
" jadi lah... kita coba lagi lagu yang kemarin....knockin' juga kita coba aja... melodinya mah asal aja dulu..." kataku. capcay adalah istilah baru ditingker. artinya latihan band. ini semacam sandi anak thinker bila mau merencanakan latihan band. lagi-lagi eka yang melontarkan istilah ini. dan lagi-lagi anak-anak thinker setuju dengan bego-begoannya eka yangs satu ini.
" biar kita nggak diusili yudi zakers lagi...!" begitu eka memberi alasan ketika anak-anak nanya kenapa. anak-anak cuma "oohhh..." lalu,
" ya, enak aja kedengerannya..." begitu eka memberi alasan ketika anak-anak nanya kenapa passwordnya capcay. anak-anak mengerutkan kening sebelum mengangguk-angguk tanda setuju. sejak saat itu kalau mau latihan band, anak-anak bilangnya 'capcay'. dan selasa sepulang sekolah ditingker akan capcay lagi

" tapi senin malam ngumpul dulu, ya " kataku pada yang lainnya.
" iyalah, kita kompakin dulu lagu barunya, biasa...gigitaran...." sahut ugun sambil memandang anak-anak yang main bola malam. sesekali ia ikut menendang ketika ada bola yang menuju ke arahnya.
" insya allah besok mau beli stik drum !" kata opik
" nah, gitu dong... selagi drumnya belum kebeli... stiknya dulu sama kemampuannya..!" kataku memberi semangat.
" iya kamu juga.... beli klabbernya dulu. gitarnya mah nanti-nanti...." lanjut opik. nggak lucu, tapi kita pada ketawa-ketawa juga. ya, perjuangan untuk jadi pegawai band tetap memang masih panjang. sementara honorer aja dulu dengan kemampuan yang ada. dengan lagu-lagu yang baru bisa.
" lagu ciptaan kemarin, mau dicoba ?" tiba-tiba ugun bertanya.
" yang mana?" tanya opik juga.
" yang itu... apa judulnya teh, yan...? jawab ugun sambil nanya juga. he he jadinya patanya-tanya, kumaha ieu teh?
" masa lupa pik, lagu ciptaan kita kemarin....kisah sedih berakhir gembira, kisah gembira berakhir sedih..." jawabku.
" oh, iya.... he he...aneh pisan judulna !" ujar opik. " gak usah dulu deh...., yang lain belum pada tahu, eh gimana lagunya teh yan....?" lanjutnya
" ya, gitu....!" aku juga lupa lagi gimana nadanya. maklum lagu baru dari band yang baru berdiri. " kalau ada gitarnya pasti inget...." kataku lagi. begitulah pemain band dadakan yang gak tahu not dan gak apal nada, mudah lupa dan susah ingat.
" gini...gini... kisah sedih berakhir gembira......" ugun mencoba menyanyikan acapela lagu dimaksud dengan nada-nada yang menurut aku dan opik aneh.
" bukan gitu.... gimana, nya?" opik protes lalu mikir-mikir. aku juuga mengingat-ingat, kok lupa ya.
" ya udah, nanti kita inget-inget lagi pake gitar.... nanti mah kalau bikin lagu teh direkam pake tip biar gak lupa" usulku. anak-anak cuma ngangguk.

" udah malam ah, pulang yuk...!" ajak opik pada akhirnya. ini memang hampir jam setengah sepuluhan dimana batas waktu main bagi anak seusia kami hampir habis. meskipun besoknya libur. iya, kecuali kalau mau tidurnya di teras rumah dan kedinginan karena gak dibukain pintu sama orang tua yang udah tidur dari tadi.

akhirnya kamipun beranjak meninggalkan tiang bendera alun yang setia mendengarkan perbincangan kami.kami berjalan dan terus berjalan hingga berpisah di simpang siliwangi cikuray. opik ke kiri belok kanan lalu kiri lagi sebelum akhirnya belok kiri lagi dan masuk sebuah gang, sementara aku dan ugun belok kiri lalu lurus hingga pasundan dan belok kanan di depan rumah masing-masing. mengetuk-ngetuk pintu hingga orang rumah nongol dan sembari kesel bilang, " ngablu wae !!" dan kami cuma cengengesan. perjuangan, perjuangan.

malam bertambah malam. dan dingin saja yang tersisa hingga subuh hingga pagi bermatahari.

Selasa, 11 Agustus 2009

pintu 8, lagu baru.....




empat orang pemuda berambut gondrong keluar dari ruangan studio sumpek itu. tersenyum ramah pada anak-anak 'ditingker' yang saat itu ada yang sedang duduk di kursi panjang, ada juga yang jongkok cingogo yang kalau ada yoga pasti bilang "udah penuh tuh, siram dulu ! bau !". ada-ada aja, emangnya wc.
" pingin ke wc, uy.... di mana ya?" bisik ombi padaku yang tengah mengagumi penampilan para rocker asli yang baru saja mengakhiri 'konsernya' dengan lagu ' i remember you' skidrow. dari wajahnya kelihatan ombi udah banget ingin buang air, entah besar entah kecil.
" nggak tahu, .... pik, wc sebelah mana ?" jawabku dan langsung menyerahkan urusan ombi pada opik. opik menunjukkan ke mana arah wc yang benar kepada ombi, secara waktu latihan pertama dulu opik pernah nyewa wc pemilik studio. ombi pun menuju arah yang ditunjukkan opik, sebelah lain dari rumah pemilik studio.

sementara aku masih juga memelototi para pemain band gondrong yang mungkin bukan anak sma, apalagi smp. sepertinya mereka anak-anak kuliahan. agaknya mereka sudah profesional sebagai tukang band. ini bisa dilihat dari alat musik yang mereka bawa sendiri. hm, yang bawa gitar listrik pasti gitarisnya.
" latihan, a ?" ups, si gitar listrik nanya ke aku. mungkin basa-basi. udah jelas kita datang ke studio latihan band. masa mau belanja? aku hanya mengangguk. ada juga yang bawa bass listrik. seorang yang pakai bandana di rambut gondrongnya bawa seperangkat alat sholat, eh bukan tapi seperangkat efek-efekan buat gitar. wah, jauh amat ama thinker, stik aja opik minjam dari heri. sementara aku cuma berbekal pick atau klaber uang gocapan. yang lainnya mah paling bawa semangat dan harapan tinggi kelak jadi tukang band yang terkenal.
" yu, ah duluan..." pamit si bandana pada 'ditingker' yang langsung menyahut 'mangga a...mangga a'. he he , kayak udah kenal aja. tapi bagi ditingker dipamitin gitu membanggakan juga. ya, setidaknya ada tukang band yang udah profesional yang menganggap mereka eksis.

setelah para rocker profesional berlalu. para rocker amatiranpun langsung masuk ruangan studio sumpek. yang dituju bukan kewajiban alat musik masing-masing, tapi pada berebutan menuju set drum. eka yang duluan duduk di kursi drummer langsung memukul-mukul apa saja dengan stik yang tersedia. sepasang pemukul yang sebenarnya gak layak disebut stik drum saking ancurnya. tapi eka cuek aja.
" salah... bukan gitu ka...!" opik yang paling bisa meskipun sebenarnya baru bisa ketukan dua satu dua mencela. sementara aku dan ugun udah di gitar dengan bas dan langsung mencocokkan nada. sementara eka gak peduli pada kritikan destruktif opik, tinggallah opik yang gusar banget karena udah pingin mraktekin dua satu dua yang kemarin dipelajarinya. ombi yang datang belakangan malah ikutan nongkrong dekat eka.
"tos, eka abdi heula nya pik...!" pintanya dengan sopan pada opik yang tambah bete. dasar para tukang band tidak berdedikasi, katanya pingin maju.
" E !" kata ugun padaku yang udah selesai menyetem gitar.
"dem ! dem ! dem !" aku memetik senar paling atas. ugun mengikuti sambil sesekali memutar pemutar senar bas E.
" A !" seru ugun lagi. maka akupun memetik senar kedua, dim..dim...dim...
sementara itu eka yang mulai bosen di drum meraih gitar ritem dan ikut mencocokkan nada. giliran ombi yang mukul-mukul drum. gak jauh dari eka malah tambah kacau.
" udah mbi...udah mbi...!" dengan tak sabar opik memelas.
" bentar, pik...! sahut ombi "dug dug tak dug dug dug dug dug cesss! nah udah...." sambung ombi setelah ropelan semampunya. lalu keluar dari set drum. bergabung dengan aku dan eka yang masih mencocokkan nada.
opik pun langsung mempraktekkan kemampuannya main drum, sekalian melepaskan kekesalan karena tadi dahului sobat-sobatnya. dengarlah pukulannya, dug dug dug ! Prang ! he he... udah dong pik, kan sama sama bayar....

lima menit kemudian gitar-gitar dan bas kelihatan udah oke untuk dimainkan.
" siap, ini teh ? " tanya ombi
" siap, siap !!" sahut yang lainnya.
pintu dalam studio terbuka, sebuah kepala nongol. kepala seorang bapak-bapak berkacamata baca tebal dengan logat agak jawa.
" berapa jam ?" tanyanya
" satu jam, pak !" jawabku. tak lama lampu hijau nyala. tanda hitungan mundur satu jam dimulai. ditingkerpun langsung memainkan lagu kebangsaannya, tak dug dug ces.....

never say good bye mulai bagus, don't cry dicoba masih gak kompak pas mau reff. ulangi lagi dari awal, kali ini vokalnya keteteran pas di reff tapi musik jalan terus. pas interlude aku belum bisa. berhenti begitu saja. never say goodbye lagi. don't cry lagi, ombi nyanyinya dengan gaya axl di video klip. 'tonight' nya dibuat se-axl mungkin. malah mirip orang nyanyi dangdut. anak-anakpun ketawa-ketawa. lagu don't cry itupun gagal total. never say goodbye lagi tapi nggak full, keburu bosan.

" pik, coba knockin on heavens door, apal ?" pintaku pada opik. opik mengangguk, pikirnya ah... drum mah cuma ngikuti aja.
" bisa, mbi ?" aku nanya ke ombi yang dijawab dengan gelengan kepala, kemarin dia memang cuma fokus ke don't cry. " eh, kita coba aja, yan..!" ujar ombi. maka akupun memberi instruksi chord-chordnya ke eka dan ugun.
"pas lagu, G D Am, G D C...." jelasku. eka dan ugun menggenjreng chord yang dimaksud.
" nah gitu...., pas reff G D C aja....! lanjutku. eka dan ugun kembali mengikuti instruksiku.
"siap....!" akupun langsung memainkan intro knockin disusul opik dengan dug tak dug tak dug jes nya. masuk bas dan ritem menimpali. rame deh... masuk vokal aku ngebantu ombi nyanyi sementara teks lagu dari sampul kaset GNR use your ilussion II punya ugun yang sekarang lecek abis dipegang ombi.lumayan, dimainkan tanpa briefing langsung agak kompak. lagunya sederhana sih. nambah lagi deh rencana lagu buat ditingker. paling nanti bagianku ngulik bagian melodinya.

beres knockin kembali lagi ke neversay goodbye dengan khusyu. don't cry dengan vokalisnya rame-rame sambil ngebantu ombi yang mulai serak, mungkin itulah don't cry versi koor yang pernah ada. pas, mau mainin knockin lagi keburu lampu merah.
" satu lagu lagi euy...." seru opik ngingetin. maka, tak dug dug...

.......never say goodbye yeah.... you and me and my old friends, hoping it would never end......


**

belakangan kami tahu bahwa pemilik rentalan musik di kondangrege dalam itu bernama pak tulus. ya, yang kepalanya tempo hari nongol dan nanya berapa jam kita mau latihan. itu diketahui dari opik yang dia juga mendapatkan informasi itu dari heri. heri sendiri sudah sering latihan di pak tulus bersama band lingkungan tempat tinggalnya. sementara taher sendiri selain ngeband bareng heri juga punya grup tersendiri. jadi sebenarnya mereka masing-masing udah punya pengalaman ngeband dan manggung yang banyak.

beda dengan 'ditingker' yang serba baru. belajar gitar baru, denger lagu-lagu band baru, beli kaset rock juga baru-baru. sementara para personilnya gak punya alat musik band. paling juga masing-masing punya suling di rumahnya. itupun dikarenakan di kelas guru musiknya cuma mengajarkan itu. dan dengan suling ini anak-anak cuma jago menanyikan ' ibu kita kartini' dengan air ludah terkumpul di dalam seruling saking semangatnya. tapi gak apa-apa, itupun menurut bu guru udah cukup. habis, ibu gurunya sendiripun cuma bisa teorinya.

sementara heri semenjak kelas satu udah belajar ngegebuk drum. taher malahan sejak sd udah jago main gitar. aku kenal pasti sama taher because dia adalah teman sd. enam tahun, bo kita sekelas. dia anak yang lumayan pintar. dengan aku saling berkejaran ranking kelas. dari kelas 1 hingga kelas 4 selalu rangking 1 sementara aku rangking 2. pas di kelas 4 sampai 6 aku dan dia selalu tukar posisi antara rangkin 1 dan 2.

ketika kelas 4 taher juga ikutan dokter kecil bersama teman lainnya. masih inget, kan? jaman-jaman itu masih ada program yang dokter-dokter kecil gitu bagi para siswa sd. dari tiap kelas 4 sd diambil sekitar 5 orang untuk dilatih jadi dokter-dokteran. aku yang sebenarnya berhak ikut pelatihan dokter kecil karena termasuk golongan ranking malah gak ikut dengan suatu alasan. jadinya anak-anak lainnya yang ikut. mereka adalah ricky rikwanto, dewi jedingstun, leni, dan asep rosad.

lengkaplah sudah curikulun viti taher dengan diikutkannya dia pada program siswa teladan tingkat sd yang diadakan dakdikduk (baca : departemen pendidikan dan kebudayaan) kabupaten. salah satu syarat untuk bisa jadi siswa teladan adalah harus bisa alat musik. nah, taher cocok di bidang ini. diam-diam dia ternyata pandai memainkan si enam senar. dengan bantuan pak rahmat diapun berlaga di komba antar sekolah mewakili kelas kami. konon, di lomba itu dia dapat juara kesekian di kabupaten.

" gimana latihannya kemarin, yan ?" tanya taher saat bareng denganku mengacak-ngacak gehu bala bala cireng di warung ibunya Ncus yang sedang ramai-ramainya setiap jam istirahat seperti ini.
" lumayanlah... nambah satu lagu ..." jawabku sambil meraih satu gehu yang masih anget.
" lagu apa ?" tanya taher lagi sembari memasukkan cireng pilihannya ke dalam sambel cair pedes.
" GNR, don't cry... tapi melodinya belum bisa...!" jawabku. gehunya, panas keneh uy.
" ah, babari....!" seperti biasa sang suhu cuma berujar demikian.
" ajarin, ya...!" pintaku.
" bisa..." jawabnya. " aku ke si heri dulu, ya....!" lanjutnya
" iya " akupun bergabung bersama teman sekelasku lainnya yang lagi pada jongkok di pinggir lapang basket memandangi anak-anak kelas lain yang sedang sut-sutan basket.

sama sepertiku ada juga teman-temanku yang sedang menikmati gehu atau cireng atau bala-bala. itu memang makanan khas kami siswa smp 1 di saat istirahat belajar. tidak seperti di kantin-kantin sekolah kota besar yang biasanya dikonsep kayak restoran, yang ada mejanya, ada kursinya, ada jejeranbotol-botol saus dan kecap dan berbagai minuman ringan, maka di sekolahku cukup dengan goreng-gorengan, es teh manis dalam plastik atau limun manis rasa kimia jeruk, lalu makannya cukup dengan nongkrong di pinggir lapang sambil menunggu bel masuk.

***

di basecamp lagi selepas isya. aku, opik dan ugun plus yoga baru saja menyelesaikan pr matematika. sementara eka dan ombi berhalangan karena ada keperluan keluarga. he he, tadinya di papan absen kita mau nulis 'nihil'. seperti biasa setelah belajar bareng dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol ringan sambil mendengarkan radio. acara request-request lagunya sebenarnya sudah selesai. tumben, hari ini gak ada satupun teman yang request lagu sambil kirim salam.

" duluan ah, ..." yoga akhirnya pamit. "mau bareng pik ?"
" nggak ah... mau gigitaran dulu...!" sahut opik. yogapun berlalu dengan sepada bmx kesayangannya.

" bikin lagu, yu..?" ajakku pada teman-temanku yang sekarang udah mulai nyantei.
" ayo..." ugun yang merespon. opik masih berkutat dengan gitar yang mulai digenjrang-genjreng di kunci A.
" ayo pik... A " kataku ke opik. opik dengan semangat menchord A. Jrenggg, masih fals dikit.
" E !" kata ugun iseng. Opik berhenti, "... E, gimana Yan !"
aku menunjukkan senar-senar yang harus dipencet jari kaku opik. Jrengg.... lumayan.
" A gini. jreng.... E Gini jreng...!" opik tambah semanget. " bener, ya..?"
aku dan ugun mengangguk.
" cukup ah... udah apal dua konci...!" kata opik sambil menyerajkan gitar padaku.
akupun menggenjreng A dan E sambil bersenandung na na na na...
"lagu apa, yan ?" tanya ugun
" iya... ngarang aja..." jawabku asal
" aku bikin teksnya..." opik inisiatif.
kamipun membolak-balik chor A dan E serta sesekali D karena dirasa rada nyambung.

Suer, di antara kami gak ada yang paham teori musik, not balok, bar-baran dan yang lainnya. cuma mengandalkan feeling aja genjrang genjreng dan na na na na. awalnya iseng lalu berubah serius ketika merasa genjrang-genjreng ini jadi kerangka sebuah lagu yang setengah utuh, mudah diingat dan enak didengar. maka jadilah lagu pertama ditingker malam itu. musiknya by ditingker dan liriknya by opik dan ditingker juga. sementara judul belum ditentukan. kira-kira liriknya begini :

kisah sedih berakhir gembira, tak selalu kita dapatkan.
kisah gembira berakhir sedih, itu yang selalu terjadi
tak selamanya.... tak seterusnya....

kisah sedih berakhir sedih, itu saja yang selalu ada
kisah gembira berakhir gembira, tiada pernah kita rasakan
tek selamanya.... tak seterusnya....

bagaimana? cukup ancur kan....? maklumlah, namanya juga lagi belajar.

setelah dirasa puas dengan lagu karangan yang setengah jadi, 'ditingker 'pun bubar pulang ke rumah masing-masing. udah hampir jam 10 bulanpun nampaknya mulai kedinginan.

Kamis, 06 Agustus 2009

pintu 7, ditingker again

aku dan ugun sedang ngulik lagu baru di basecamp. don't cry versi original lyric ternyata chord-chordnya cukup sederhana. Am dm G C, mirip dengan lagu sendiri-nya may. hanya saja ada yang khas pada petikan bas yakni dem...dem..demdem dem... ! C B C B A minor lagi. ugun emang baru beli kaset use your ilussion II cover biru. use your ilussion bisa dikatakan double albumnya GNR. satu lagi yang covernya warna kuning. sebenarnya don't cry versi original ada di GNR kuning. di cover biru versinya alt lyric. namun chornya sama. cuma beda lyric dan sedikit melodi lagu. nah, karena yang mudah dan lebih catchy versi warna kuning maka original lyric lah yang dipakai.

sesungguhnya the thinker tak ada jadwal briefing sore itu. cuma kumpul-kumpul biasa sambil memperdalam ilmu gitar secara odidak. makanya hanya aku dan ugun saja yang ngumpul karena rumah kami berdekatan. saat itu ugun belum memiliki gitar akustik. untuk mengupdate main gitarnya dia numpang di rumahku yang ada gitar yang sebenarnya juga aku numpang minjam gitar dari kakak sepupuku yang juga numpang minjam dari temannya, rahmat. sementara rahmat sendiri belum bisa dipastikan apakah dia numpang minjam juga atau emang gitarnya sendiri. kebayang panjangnya riwayat pahala pemilik gitar sebenarnya.

sudah lima putaran lagu don't cry kami putar. "bisa,bisa..." seru kami bangga karena udah mampu memainkan kerangka dasar lagu tersebut. tinggal melodi atau interludenya aja yang harus diulik lagi. itu mah tugas aku . rencananya the thinker mau mainin lagu itu juga. ombi udah oke, eka oke, dan opik juga oke. GNR emang lagi naik daun saat itu. dan lagu don't cry merupakan balada yang asyik untuk dibawakan. opik juga yang udah pinjam sehari kaset itu dari ugun kayaknya udah bisa mainin drum dasar dari don't cry. terbukti tadi siang di kelas udah mulai 'tak dug dug tak dug dug -an' dan penuh semangat mengusulkan don't cry untuk ada dalam daftar lagu 'ditingker' berikutnya.

"bosen uy... neperseygudbay terus....!" katanya di sela-sela informal forum kami.

karenanya kami bersepakat membawakan sebuah lagu baru. ya don't cry itu. kami juga mendengarkan lagu-lagu lainnya di album use your ilussion II. tapi fokus untuk dimainin band hanya don't cry. secara umum anak-anak the thinker telah membaptiskan dirinya sebagai fans GNR saat itu meskipun kasetnya cuma satu berlima karena keterbatasan dana. eka bahkan pernah berujar bahwa jikalau GNR manggung di indonesia dia akan bela-belain datang untuk nonton konsernya. saking fansnya, untuk call-call di radio kami pakai nama belakang personil GNR seperti ombi roses, opik sorum, dan ugun mckagan. noraks banget, tapi jaman itu hal yang biasa untuk memperkenalkan diri terutama di radio yang setiap sore kami panteng.

"yang penting mah susunan lagunya, gun...!" kataku kepada ugun yang sedang bolak balik bas-basan 'don't cry' pake gitar akustik mengikuti mr duff mckagan di tip.
" iya, rada beda setelah reff kedua....!" sahutnya. aku mengangguk. besok kaset itu giliran ombi. he he maklum kaset untuk ngulik jadi harus rela berpindah-pindah tangan.
" urusan vokal mah rada gampang.... jadi bisa sehari" kataku.
" pas ngerental lagi udah bisa dibawain, ya...?" ugun sepertinya udah gak sabar ini membawakan don't cry versi thinker.
" bisa lah...." jawabku sambil meraih gitar yang baru saja diletakkan begitu saja oleh ugun di meja.
" udah jam sembilan uy... pulang dulu ah...!" ujar ugun tak berapa lama.
" iya atuh...sok ... aku juga mau kunci-kunci ..." sahutku sembari membereskan buku-buku catetan lagu yang udah di edisi ke 4. ugunpun pamit dan pulang ke rumahnya.
sementara aku masih penasaran dengan interlude don't cry terutama di bagian-bagian akhir yang lumayan 'burulak burulak'. " sekali lagi ah...". rew sebentar, play, kurang rew, rew lagi, play lagi, pas. please mr axl..........

talk to me softly there is something in your eyes...dem dem demdemdem....!
don' hang your head in sorrow and please don't cry... dem dem...demdem..dem...!


***

seperti biasa setiap pagi di jaman smp sebelum masuk kelas ada acara baris-baris dulu. padahal udah pada gede-gede tapi tetep aja kayak anak sd, harus baris sebelum masuk kelas. untungnya tidak ada bab meriksa kuku, dimana mereka yang kukunya. panjang dan hitam-hitam disentil guru. anak-anak 3A sedang saling berdesakan diatur-atur km ijo agar lencang kanannya benar.
"tegaakk... grak !" sang km ngasih aba-aba lagi. lalu menunjuk barisan paling kiri untuk masuk dulu.
" kalah euy...!" pagi-pagi yang cerah ini udah dirusak oleh kabar yang dibawa ijo.
" kalah apa, jo...?" ombi langsung menyambar.
" blazer kalah napak tilas...!" jawab ijo dengan muka penuh kekecewaan.
" kata siapa? siapa pemenangnya?" opik dan aku hampir berbarengan ingin tahu.
" tadi pagi-pagi dengar pengumuman di radio... pemenangnya mah nomor dada....eh, berapa ya? pokoknya mah dari juara satu sampai juara harapan bukan nomor kita....meni deg degan tadi juga..!" jelas ijo
" gak jadi dong... beli gitar baru...! " ujarku kecewa
" iya beli mini compo teh batal..!" opik tak kalah kecewa. ombi dan ugun yang di barisan mau masuk kelas ini bersisian kecewa juga. ya, kami, blazer kecewa. soalnya kami merasa sebagai tim paling kompak dan berdisiplin tinggi. kami juga satu-satunya tim yang tidak merokok, meskipun itu bukan kriteria panitia.
" mungkin kita emang terlalu cepat sampe finishnya..." kata ijo akhirnya
" kata aku juga, jangan kecepetan, jo !" ujar opik sedikit menyalahkan.
ijo cuma nyengir aja. nyengir aneh yang penuh misteri. tahu kan? yang matanya rada dimain-mainin ke atas bawah. what happen aya naon? kenapa juga waktu bertanding kemarin sebelum beli es goyobod, ijo menghilang dulu. ada apa ya? ada apa dengan ijo?
"jo, kemarin pas mau beli goyobod kemana dulu ?... ditungguin lama banget..." penasaran juga aku dengan cengar-cengir anehnya ijo.
" ke wc, di masjid agung....!" jawabnya sambil masuk kelas, masih cengar-cengir.
" ah, pantes dong...." akupun mulai ngerti.
"poison, okey, poison....!" akupun berseru mengaggetkan anak-anak kelas yang belum lagi pas memposisikan pantatnya di kursi masing-masing. poison okey poison ! adalah ungkapan khas nanang kalo merasa menemukan sesuatu, semacam eureka nya archimides. maklum nanang yang rada reman ingin kelihatan metal sementara grup metal yang dikenalnya cuma poison. jadinya, poison okey poison !!

***

seperti sudah diceritakan di atas, tim blazer tewas dengan sukses di acara napak tilas polres. tapi tidak menyurutkan tim blazer untuk ikutan napak tilas lagi tahun depan. kalau masih sekelas tentunya. jelas ini imposible karena tahun depan mereka-mereka kan sudah sma dan siapa yang tahu mereka masih sesekolah.

tapi tidak imposible bagi 'ditingker 'yang semangat untuk masuk studio lagi. terbukti dari ombi yang menagih uang padaku dan personil lain untuk patungan sewa studio. ya, menurut ombi patungannya sekarang aja, biar gak pada mabur pas bayar. kamipun menyerahkan selembar limaratusan kami sebelum uang itu berubah jadi cireng atau gehu di warung ibunya kusnendar. cireng atau gehu atau bala-bala yang diapit dua kerupuk dengan saos berbiji cabe rawit emang sedang ngetop di smpn 1 saat itu. burger kata pelangan warung ibunya ncus nama top kusnendar yang teman kami beda kelas. bapaknya ncus adalah pembantu sekolah tinggalnya di kompleks belakang sekolah. jadinya ibu ncus diperbolehkan berdagang di sekitar sekolah seperti juga istri para pembantu sekolah lain. dan cirengnya itu cukup enak untuk dijadikan burger kajajaden.

dan ombi memang menagihnya di depan warung ibu ncus sehingga agak nyambung juga (walau dipaksakan) kenapa saya jadi ngacapruk ngobrolkeun cireng.
" mbi, udah hapal don kraynya...?' tanyaku sembari menikmati burger cireng bersaos biji cabe rawit. (ribet, nya?). kami sedang duduk di pinggiran lapang basket melihat anak-anak yang di jam istirahat ini memilih berkeringat dengan basketnya.
" hapal dikit.... " jawab ombi tanpa melepaskan konsentrasi dari burger gehu kesukaannya. sama, juga dengan saus biji cabe rawit.
" nanti kita coba, mbi..." kataku. berdiri. bel tanda masuk kelas udah bunyi lagi. perasaan, baru saja keluar, kok udah masuk lagi, ya?

**

the thinker sedang terjebak di tengah sawah siang itu. alhamdulillah, tadi sempet sholat dzuhur dulu di masjid muhammadiyah deket rumah opik. ya, sebelumnya 'ditingker' ke rumah opik dulu. opik katanya ada perlu sama ortunya (padahal mah dia mau minta ongkos, kita pura-pura gak tahu aja ya...). karena tanggung dan takut kayak kemarin yakni gak sempet sholat dhuhur. maka diantisipasi dengan sholat awal waktu. waktu latihan yang kemarin, saking semangatnya sampai lupa shalat. bayangin aja, akhirnya mereka shalat dijama. coba itu, padahal nggak ada alasan yang jelas untuk dijama. nggak beperjalanan, nggak sakit, nggak lagi jihad. daripada nggak ! kata opik membela diri. he he dasar anak muda, bisa we....

nah sekarang hal tersebut jangan terulang lagi. kita kan bertekad jadi pegawai band yang sholeh. pegawai band yang gak ngerokok dan pegawai band yang gak mabuk-mabukan kecuali naik kendaraan dan lupa minum antimo. cukuplah ijo saja sebagai mantan drunken master di kelas kami. kita main band aja. no drug no alkohol.... dan rajin shalat.

lantas setelah shalat berjamaah kami menyusuri gang yang dulu pernah kami gunakan untuk menuju tempat latihan kondangrege. opik paling depan karena dia lebih pede dengan bajunya yang nggak seragam. latihan kali ini tidak bersama taher plus the changkilung-nya. ya, kita langsung mencoba mandiri. di samping tahernya juga ada perlu, gak bisa mengantar 'dithinker'.

namun kami merasa belum siap untuk memakai rute kemarin setiba di daerah kondangrege. yup, kami belum berani melewati para pemuda di depan-depan gang sepanjang kondang rege. padahal itu mungkin cuma ketakutan kami saja. tapi jaman itu, palak memalak anak sekolah sudah ada. jadi kami perlu mengantisipasinya sejak dini. sedia payung sebelum hujan, kalau dalam peribahasanya mah.

" jalan ke sawah, aja !" usul eka. dan kami menyetujuinya. padahal yakin seyakin-yakinnya eka belum tahu daerah itu.
" ah, mudah kata eka... pasti kita bisa keluar di gang yang mendekati tempat latihan.." tambahnya pasti. dengan bismillah dan ber-'poison okey poison' secara kompak kamipun menapaki pematang dan seperti telah diceritakan tadi kami terjebak di pematang sawah yang masih basah karena baru jadi. seorang pak tani sampe terheran-heran melihat kami, anak-anak smp berseragam dan satu yang galing pake baju bebas nekad menerjang pematang basah.
" buka sepatunya !" seru ombi. anak-anak membuka sepatu. ya, daripada sepatu yang kotor mending kaki kami kena lumpur sawah. besok, kan belum libur.
" he he..dasar si eka ngagawekeun..." opik protes berat
" sabar..sabar !" sahut eka sok innocent. " nanti kalau udah ngetop.. bakal jadi pengalaman terindah.." sambungnya
" iya pik, kayaknya bentar lagi nyampe..." kataku membela eka. soalnya aku juga tadi mendukung usul eka habis-habisan. " lihat si ugun...kalem !" dasar bassist...

di tengah matahari yang panas (jam dua, bo !) 'ditingker' sedang berusaha membebaskan diri dari lumpur sawah. untunglah mereka menyadari arti perjuangan. ya, perjuangan menghindari preman sepanjang jalan ternyata gak mudah. ke manapun berjalan, arah manapun yang kita pilih, strategi apaun yang kita gunakan pasti yang namanya tantangan selalu ada selalu udah tersedia. contohnya seperti ini : 'bebelesekan dina galeng'.

akhirnya mereka berhasil keluar dari tantangan pertama. alhamdulillah, sukses !... seru mereka sambil ketawa-ketawa menyadari ketololan masing-masing. tak lupa saling menyalahkan, eka sih...opik sih.... diyan sih... standar lah. kini mereka menyusuri gang-gang lainnya untuk menuju ke tempat rental yang ternyata tanpa peta yang jelas. sempat juga mencari mushola kecil untuk cuci kaki dan pake lagi sepatu yang digigiwing kayak maling. lalu kembali menyusuri jejak tempat latihan dengan hanya mengandalkan 'berdasarkan, perkiraan, dan penciuman' eka dan beberapa potong ingatan masing-masing yang udah mulai kabur.

" asana mah ka dieu...!" kata eka kurang yakin ketika menemui persimpangan gang.
" bukan ah, ke sini...." jawab opik gak setuju.
" ke sini ah...!" eka gak mau kalah
" ke sono aja ka... tadi ge nyasab melulu, kamu mah...!" ombi mulai gak sabar juga
" ke sini aja...ke sana mah, tuh ada preman...!" tunjuk eka ke arah pemuda yang emang lagi pada nongkrong.

akhirnya semua setuju dengan petunjuk eka karena pada gak berani lewat di depan para pemuda setempat yang secara spontan terasosiasi dengan preman. kembali mereka bolak balik masuk keluar gang. hingga....
" tah, udah dekat....!" seru eka kegirangan.
" iya,... ada suara genjang-genjreng, hayu ah....!" opik yang dari tadi manyun kembali bersemangat.
berduyun-duyun ditingker menuju pusat suara. alhamdulillah, benar saja... gang yang menuju studio rental. asyiik, nyampe juga. semakin dekat semakin kedengaran suara yang main musiknya. cukup kompak dan rapi.

...searching... seek and destroy !
....searching... seek and destroy !

wah metallicaan, euy ! kapan-kapan kita ulik lagunya ya... minta beberapa trik ke suhu taher aja untuk yang 'burulak burulak' nya mah...

... sekarang mah kompakin don't cry aja, ya... poison okey posion ! tiba-tiba saja kami serasa nanang ketika menemukan sesuatu....

***

Selasa, 04 Agustus 2009

pintu 6, sejenak bersama ijo dan 'blazer' bag. 2




ternyata dalam dunia ini banyak hal yang menyenangkan kalau kita bisa menikmati dan mensyukurinya. bener juga apa kata orang-orang, yang terpenting dari semuanya adalah bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu. mau bagus atau buruk tergantung kita menilainya.

seperti siang itu, ketika aku dan blazer bernapak tilas. kupikir ngeband aja yang asyik. napak tilas juga bikin hati riang gembira. aku yang paling pendek harus menerima jadi buntut di rombongan 'ngabaduy' kami. ijo paling depan, kedua opik, disusul ugun dan ombi. kami masing-masing menyandang ransel yang biasa dipakai sekolah di punggung. kesampaian juga ikutan lomba napak tilas hari jadi polres.

" samakan langkah...samakan langkah... !" begitu ijo ngasih komando. ijo emang didaulat jadi pimpinan blazer the napak tilas team adventure. ya, karena pengalamannya yang seabreg di bidang petualangan sub bidang jalan kaki, maka ia berhak menyuruh-nyuruh kami. di samping ijo juga sebagai pelopor kegiatan ini yang katanya ketika, " jangan salah, kita ini mewakili sekolah...!" kami cuma mengangguk-angguk saja. ijo semakin semangat mengompori, " nanti kalau menang... kan ada hadiah tropy tuh, kita serahin ke sekolah..!" kembali anak-anak yang saat itu sedang ngumpul di basecamp pasundan cuma bisa mengangguk campur kagum pada ijo yang kemudian menambahkan, " yah, itung-itung mengharumkan nama sekolah,... kalau saya mah sering lewat pramuka..." ujarnya enteng. "...kalian kan belum pernah?" anak-anak akhirnya pada bete disindir gitu. tapi gak lama juga, pada menyadari 'kali.

sebenarnya nggak juga kalau dibilang yang lain tidak pernah mengharumkan atau setidaknya membawa nama sekolah di ajang luar sekolah. opik dan ombi juga sering bawa-bawa nama sekolah di paskibranya. sementara aku sama ugun lewat kegiatan basket yang sering diadakan perbasi lokal meskipun di tim smpn 1 C dan jarang menang karena di babak-babak penyisihan sudah tersingkir. dan kini atas nama sekolah 'dengan biaya pribadi' kami mencoba mengharumkan nama baik sekolah lagi. yap, meskipun nama timnya blazer tapi alamat yang kami gunakan adalah sekolah kami.

"Jo,...jangan kecepetan, kasihan yang dibelakang ketinggalan !" opik usul karena dirasa kecepatan langkah kaki ijo di atas kewajaran yang diperbolehkan. maklumlah, ijo kan kakinya 'congcorang' jadi langkahnya lebar-lebar. ijo mafhum dan sedikit memperlambat gerak kaki. alhamdulillah, ujarku dalam hati. aku dan ombi agak ketinggalan.

selain tim blazer, ternyata cukup banyak yang mengikuti lomba napak tilas ini. pasti bukan karena tropynya yang diincar. mungkin mereka mempunyai motivasi yang sama dengan kami. ingin menang agar dapat uang. he he sebuah motivasi yang klise. aku juga, jujur aja ingin uangnya. aku berencana membeli gitar akustik jikalau uang kemenangan yang disediakan panitia itu kami dapatkan dan dibagi-bagi antara kami. yang lainnya juga sama, opik malah berencana mau beli mini compo buat ngulik suara drum sebuah lagu. tahu gitu, aku yang juga belum punya mini compo sendiri mau juga beli kayak opik di samping beli gitar. eh, cukup nggak ya?

pagi tadi sekira jam delapanan start perlombaan dimulai di depan kantor polres yang juga depan alun-alun. sebuah pusat kota dan cukup netral bagi semua peserta yang berasal dari semua kalangan dan semua kecamatan di kotaku. ada yang mewakili suatu instansi, sekolah, atau juga perorangan. semua peserta kelihatan bersemangat. pagi kotaku yang terbiasa dingin hari itu menjadi hangat dikarenakan senyum peserta lomba. katanya jumlah peserta hingga kurleb 500 tim. blazer aja kebagian nomor dada 273 yang dipasang dengan paksa di dadaku. kalau dipukul rata setiap peserta 5 orang maka orang-orang yang ikutan acara ini hampir dua ribuan. pantes aja alun-alun sesak.

dengan 'dor ! ke uadara oleh ketua panitia. maka lomba dimulai. pada awal-awal semua bener-bener rapi dan semangat tinggi. belok ke jalan pramuka masih tetap barisan yang teratur di hingga kerkof-merdeka belok kanan peserta masih lumayan teratur. jalan merdeka terus hingga ujung depan stm. nah, dari sana mulai tuh para peserta jadi gak teratur. udah jadi kayak jalan santai saja. bahkan ada yang mampir ke warung segala. padahal belum setengah jalan, seperempat aja juga belum. tapi namanya juga fun dan di aturan gak ada larangan, ya boleh-boleh saja.

namun tidak bagi blazer yang beridealis tinggi. kita mesti kompak meski tadi di warung yang kita lewati gehunya kelihatan masih hangat dan cabe rawitnya hijau-hijau seger kelihatan enak bila dimakan bareng bala-bala. duh, pasti enak tuh. apalagi minumnya air teh hangat ala kampung yang pahit nikmat. ih, jadi pingin.

"nih, yan...!" tanpa menoleh ke belakang ombi menyerahkan kempis (tahu kan kempis?) berisi air teh milik ijo. wah kok tahu ya saya ingin teh. ternyata tuh air udah tinggal setengahnya karena pemimpin dulu yang minum, terus opik, ugun, ombi dan aku sang buntut di bagian akhir. he he pemimpin yang bijak walaupun aturannya dirasa terlalu mengada-ada. kata ijo kalau ingin menang harus disiplin. napak tilas, katanya, yang dinilai adalah ketepatan waktu dan kekompakan tim. jadi, tambahnya, langkah harus seragam. minum satu minum semua. berhenti satu berhenti semua. kalau di depan panitia penilai jangan kelihatan loyo. pokoknya aturan tim yang dibuat ijo lumayan banyak deh. kayaknya lebih banyak daripada aturan sekolah. tapi kita cuek aja, toh aturan kalau gak cocok bisa dilanggar.

ketika memasuki daerah perkampungan, di sepanjang jalan yang dilalui peserta banyak berjejer gelas-gelas dan teko berisi air yang disediakan oleh penduduk khusus buat peserta kadang-kadang ada juga yang makanan ringan berupa rebus-rebus umbi. nah, yang kayak gini pasti udah amblas duluan ke perut para peserta terdahulu. alhamdulillah, air juga udah untung.

"berhenti dulu.... !" teriak ijo di depan rumah penduduk. "alhamdulillah", kata yang lainnya serempak. soalnya dari tadi sepertinya tim blazer lah yang belum berhenti-berhenti. dan kita udah menyalip puluhan peserta. blazer yang startnya di kelompok tengah kini ikut kelompok peserta awal.
"boleh duduk-duduk, jo !" ombi yang kelihatan lelah banget nanya.
" nggak boleh.... nanti keram !" sahut ijo. " mana kempis ?" tanyanya.
" ini..." aku menyerahkan kempis yang udah kosong melompong.
ijo menerimanya dan mulai mengisi kempis dengan air teko yang ada di meja dekat situ. sementara yang lain bergantian minum dari gelas yang disediakan penduduk.
" haus, cep...?" seorang penduduk nenek-nek nanya ke anak-anak
" iya bu....!" jawab anak-anak kompak sembari senyum.

sekali lagi, napak tilas ini meskipun bikin tubuh cape tapi asyiknya lebih banyak lagi. banyak pelajaran berharga selain tubuh kita jadi sehat (asal jangan tiap hari aja, ya ). mengenal alam salah satunya. kapan lagi kita bisa 'tisukruk tidukduk' ke tengah perkampungan dan merasakan angin pegunungan, hijaunya sawah, kicauan burung liar dan lainnya. juga silaturahmi dengan penduduk sekitar meskipun hanya lewat senyum, kata'pararunten, yeuh...' dan seteko air cuma-cuma sepanjang perjalanan. sementara sorot mata penuh keikhlasan dan kebahagiaan para pendudukpun seakan membasuh peluh para peserta yang bermandikan keringat (maaf, kalau di bagian ini saya berceritanya gak serius. tapi bener pisan ini nyata dan pernah ada). kalau sekarang kan di antara kita kebanyakan sorot mata curiga, senyum penuh tanda tanya dan juga ketidakpedulian. amit-amit, mudah-mudahan yang gitu teh gak banyak dan cepat punah tanpa meninggalkan fosil.

"siap-siap...blazer ! blazer ! blazer !!" seru ijo dengan yel-yelnya. blazer kembali ke barisan. memeriksa kalau-kalau ada yang ketinggalan. tak lupa pamitan pada penduduk yang kalau ada 'orang kota' selalu aja seperti ada 'sirkus' . maksudnya meni melihat dengan tatapan yang serba ingin tahu. setelah 'bermangga-mangga' sama mereka. blazer melaju lagi. agak nyantai sekarang mah. anak-anak berharap semoga ijo melupakan aturan yang dibuatnya. sementara ijo juga udah sebenarnya udah cape, tapi sebagai pemimpin dia gak boleh memperlihatkannya di depan anak buahnya.
" ada yang ketinggalan ?" dari depan suara ijo kembali menyeru dan nanya.
" ada !!! " opik yang menyahut tak kalah dari teriakan ijo.
" apa ? " tanya ijo lagi sambil agak memperlambat langkah
" kentut !!" sahut opik. anak-anak pada ketawa. ya, daripada stress dan untuk menghilangkan cape serta kaki yang udah mulai pegel. he he, opik tadi emang sempet kentut dua kali. yang pertama suaranya agak keras sementara yang kedua cuma 'pess' aja. lalu seperti biasa lempar batu sembunyi tangan, 'siapa yang kentut?. kamu ya?...kamu ya...? lantas dia 'tat tit tut daun sampeu....' sendirian.

***

memasuki darah cipanas. " blazer, masih kuat ?!!" sebuah suara yang kami kenal mengagetkan. kami mencari sumber suara dari kap sebuah mobil jip. yoga sedang melambai-lambaikan tangannya. "ga... lagi ngapain...?" seru anak-anak.
" sama bapakku...meninjau !" teriak yoga.
" ada makanan...?" ombi teriak juga. makanan yang dibawa masing-masing emang sudah habis. tadi semua berbekal roti dan kompakan makan bubur ayam yang di depan sekolah sebelum berangkat.yoga ikut bapaknya yang anggota orari daerah. semacam rekanan panitia gitu. di daerah cipanas memang salah satu posko panitia berada. jadi banyak panitia berkerumun di situ. blazer yang tadinya berencana rapi di depan panitia jadi rada kacau beliau karena konsentrasinya buyar. di kegiatan kayak ginian, kalau ketemu teman seperti ketemu siapa gitu. padahal setiap hari juga ketemu di kelas. mungkin dari faktor psikologis kita saat itu sedang tertekan akibat kelelahan. atau gak tahu juga deh.

daerah cipanas mengisyaratkan bahwa kita udah menempuh dua pertiga perjalanan. lumayan juga, pegelnya makin terasa. selanjutnya adalah menuju garis finish yang perjalanannya tidak banyak ke perkampungan. udah mulai ke jalan besar lagi. harus hati-hati karena banyak pemilik kendaraan yang kadang merasa jalanan adalah miliknya sendiri dan yang lain cuma ngontrak. he he he..kayak filosofi orang pacaran aja, ya.

tapi meskipun di jalan besar masih juga banyak penduduk yang semangat menyediakan air bagi para peserta. oh, andaikan tiap hari para penduduk menyediakan air minum dan makanan bagi para pejalan betapa indahnya dunia. kita takkan pernah takut pergi sejauh manapun. padahal memberi makan pejalan pahalanya gede, tapi kenapa sekarang ini susah sekali mencari hal-hal kayak gini. mungkin karena tadi, individualisme mulai merasuki sebagian masyarakat kita.

untunglah aku masih melihat hal yang patut dicontoh di daerahku berkaitan dengan keikhlasan memberi ini. di depan sebuah gang selalu tersedia gelas dan teko berisi minuman buat pejalan dan mang-mang becak yang mangkal di sana. juga di sebuah warung kecil. alhamdulillah, orang masih ada yang tidak menilai segalanya dari uang dan uang. bahkan seorang ibu di sebuah rumah di daerahkui menyediakan air minum dalam teko yang secara rutin diminum oleh seorang gak waras alias orang gila yang sering lewat di daerahku. (orang gila yang dimaksud adalahbaw baw.... gilang pasti masih ingat orang gila yang satu ini ini. dan kalau ingin tahu lebih banyak saya ppernah cerita panjang lebar tinggi tentang dia di situs web senjaklasik blogspot bab 'baw baw and the ninja'). memang sih jadinya gak ada berani yang minum dari teko si ibu itu karona faktor jijik. tapi that's not the point. the point is sharing and giving, mengertos ?

matahari udah hampir tinggi. udarapun udah panas. sinar matahari membakar rombongan blazer dan peserta lainnya yang kayaknya di spertiga terakhir ini udah mulai main sendiri-sendiri. nggak kayak di awal-awal masih bisa saling say hello dengan peserta lainnya. jarak antar peserta cukup jauh. seperti halnya lomba-lomba lainnya. para peserta yang ketinggalan banyak yang tidak meneruskan lomba dengan berbagai alasan. ada yang kecapaian, yang emang malas, bahkan ada yang ikutan lomba karena kepaksa biar calon mertua suka. ada juga yang bilang , " ah, piala mah nanti beli aja di yy atau toko adidas. he he...yang ginian sih pasti punya pengalaman banyak sebagai panitia lomba. abis dia tahu tempat-tempat jualan piala plastik sepuhan. satu lagi pak, budi suci yang di jalan ahmad yani !

untunglah, blazer bukan termasuk salah satu golongan dari mereka. show must go on ! kata ijo. perjuangan belum berakhir kawan-kawan. tinggal dua kiloan lagi. ! begitulah seruan semangatnya pada teman-temannya. maka anak-anakpun kembali semangat. kualitas tujuannya sekarang sudah menurun, yang penting mah sampai. udah kebayang es goyobod dekat alun-alun. pasti seger banget. tambah es serut terus dikocok. ada rotinya dikit...ah, enak pisan. " hayu euy, semangat...!" opik menyambut baik seruan ijo demi es goyobod alun-alun. " blazer... blazer...blazer...!" yelnya meskipun nggak sesemangat ketika tenaga masih banyak. sepanjang jalan di awal-awal lomba yel blazer blazer blazer kerap terdengar. beberapa peserta lain yang kebanyakan aa-aa dan bapak-bapak sempet heran dan bertanya-tanya dalam hati, itu anak-anak kenapa ya." beser...beser...beser." dikiranya kita mau nyari wc.

di persimpangan jayaraga, blazer tambah semangat. tentu saja karena finish sudah dekat. tinggal satu belokan jalan a yani. ijo malah mempercepat langkah seperti di awal lomba. kagum juga aku dengan si jangkung ini. semangatnya itu. juga semangatnya dalam menyemangati anak-anak agar tak patah semangat. entahlah, apakah dia juga membayangkan es goyobod alun-alun atau tidak. dia malah cerita-cerita bahwa beberapa minggu ke depan akan kemping ke curug citiis dan ngajak aku dan yang lainnya. aduh jo... ka finish aja dulu.
" tadi pas di cipanas, curug citiis kayak melambaikan tangannya...yan !" katanya makin buas membujuk kami.
" kelihatan kan air terjunnya ? yang putih-putih itu.... wuih... menyusuri hutan cemara... nyari jalan setapak baru. berjalan di antara batu kali dan derasnya sungai. kalau sempet kita ke puncaknya. edelweissnya khas yan...!" tambahnya.
"iya jo...iya jo...insya Allah ..." sahut anak-anak dalam sisa-sisa tenaganya sebelum ijo tambah brutal mengajak kami untuk 'tour of duty'.

kini belokan cimanuk - a yani. " kompak euy...kompak, ngabaduy !" perintah ijo. kamipun menurut. berjalan berurut satu satu ke belakang. sebisa mungkin kelihatan masih kuat dengan kadar semangat tak beda dengan kondisi start tadi. beberapa panitia yang mengawasi kelihatan kagun dengan kedatangan kami. wah, masih muda...kompak.... kuatan... juga karasep ! sementara kami makin pd dan orientasi pada hadiah kembali muncul di kepala. kayaknya kita pemenangnya, nggak salah lagi kita yang paling kompak ! raut muka kami menunjukkan demikian. es goyobod udah ke delete sementara waktu. jadi deh beli mini compo...jadi deh beli gitar.

seorang panitia menyambut kami menjelang finish dengan bahasa tubuh 'parantos sumping !!!' nya inohong di bojong rangkong, sinetron lokal paporit saat itu. lalu countdown. benak kami saling menghitung.....sembilan, delapan, tujuh, enam, lima.....dan satu... finish ! alhamdulillah, serasa hilang semua lelah begitu garis finish kami injak. seakan waktu berhenti saat tapak kaki kanan ijo menginjak garis-garis putih zebra cross yang dianggap akhir perjalanan. juga kami merasa orang-orang baik penonton, pendukung, dan juga panitia bersorak dan tepuk tangan dalam slow motion.

panitiapun mencatat nomor dada 273 dan waktu tempuh kami. sebenarnya sudah banyak juga peserta lain yang sampai di finish terutama yang emang kelompok awal. tapi kami merasa nggak ada yang sedramatis kami ketika menginjak garis finish. he he lebay pisan nya.

"siapa juaranya, jo!" tanya ugun
"belum dong... baru sekitar dua puluh lima peserta yang nyampe !" kata ijo sok tahu.
" wah kita kecepetan dong...!" ujar opik.
" ah, yang penting mah udah nyampe...!" sahut ombi. aku mengiyakan.
" pengumumannya kapan jo...? tanyain gih, ke panitia !" suruh opik. ijopun dengan nurut menuju ke salah seorang panitia. tak lama udah datang. lalu...
" besok ! diumumin di radio...." jelasnya ke anak-anak yang lagi ngelurusin kaki sambil rebahan di pinggir lapang alun-alun. anak anak cuma iya iya aja.
" goyobod yu...!" ajakku
" hayu...!" anak-anak tanpa basa-basi langsung setuju. goyobod, here we come !
"nanti abis ini, kumpul dulu di rumahku ya...!" ajak opik. anak-anak cuma bisa ngangguk. asyik, makan siang gratis nih, pasti disuguhi lotek mandalagiri yang gurih dengan taburan bawang goreng yang enak itu, otak kami langsung husnuzhon. he he padahal belum ada kesepakatan siapa yang bayarin goyobod sekarang.

**

Jumat, 31 Juli 2009

pintu 5, sejenak bersama ijo dan 'blazer' bag. 1




jam pelajaran pertama, jam pelajaran bahasa indonesia pa udan, tapi kosong.
"yan, polres ngadain lomba 'napak tilas' hari jadi polisi. ikutan yu !" ijo membuka forum pagi itu. tentu saja di forum bebas. yang sedang ngumpul di bangkuku saat itu ada 'ditingker' dan anak 3A lainnya.

ijo adalah teman 'ditingker' khusus, selain juga teman sekelas di 3A, dan bagiku ia teman sejak kelas dua. dengan ugun, ijo malahan pernah sekelas di kelas satu. sementara sebelumnya, aku, baik sama ugun maupun sama ijo pernah sesekolah ketika sd. btw, dikatakan 'khusus'karena ijo juga sering datang ke basecamp the thinker di pasundan. emang, secara geografis, letak rumah ijo juga di daerah pasundan. jadi tidak mungkin mengesampingkan makhluk yang jangkung ini.

beneran, ijo memang jangkung. ia lebih jangkung dibanding teman-teman lainnya. seperti pernah disinggung sekilas di bab sebelumnya, ijo menjabat km dan juga anggota pramuka smp. ia paling senang membanggakan 'kak haris' pembina pramuka di smp kami. apa-apa selalu 'kak haris mah, yan gini, kak haris mah gitu' lantas dengan semangatnya menceritakan kak haris dengan penuh semangat yang dimatanya mungkin lebih hero daripada supermarket hero. nah, karena ijo tukang pramuka, maka kegemarannya pada hal-hal yang berbau petualangan atau bepergian sangat kuat. ijolah juga yang pertama kali ngajak aku mengakrabi gunung. pada masa kelas dua, aku udah diajak ijo mendaki ke dua buah gunung terkenal di kotaku. meskipun gak sampe ke puncaknya. yah, cuma sampe di lutut gunung aja, yakni cikurai hingga tempat pemancar TVRI dan gunung guntur bab citiisnya. jangan salah, pada jaman itu kedua gunung masih perawan. belum banyak jalan untuk menuju ke sana dan hutannya masih lebat.

cerita lainnya tentang ijo ini, yaitu bahwa dia pernah nyobain yang namanya mabok 'drinking' saat dibagi rapot kelas dua. bahkan saat porak (pekan olah raga antar kelas) kelas dua dia ikutan tim basket kelas dua sembari mabok berat. mabok beneran, bukannya mabok perjalanan. mabok semabok-maboknya dengan ngomong yang ngaco mata merah dan mulut bau alkohol. entah kenapa ijo yang pramuka tulen dengan disumpah dwidarma dan trisatya serta 'kak haris' minded sampe mabok minuman keras. bahkan kata yoga yang sebangku dengannya, waktu bermain basket ngelawan kelas satu yang ada iyep-nya ijo sampe ngeluarin jurus-jurus kungfu ketika sedikit saja dia kesenggol sama adik kelasnya. lantas marah-marah gak jelas. begitu parahnya ijo teler hingga pas akhir permainan ijo nyungsep di belakang sekolah. untungnya, guru-guru lagi sibuk meriksa hasil ujian ebsem dan nggak pada ngeh bahwa seorang muridnya berbakat jadi 'drunken master".


dan yang paling parah, ya itu tadi. pas orang lain dibagi rapot, dia malah teler di belakang sekolah deket ruang gak terurus milik smpn 8. fyi, sekolah kami bertetangga dengan smpn 8 yang kata sebagian teman di jaman itu, sekolahnya 'ih, kelas teh meni ku bilik'. sorry, bukan kata saya. tapi saya sependapat. nah, kebayang kan, ijo yang jangkung dibanjur di belakang sekolah biar cepat sadar. alhamdulillah, tuh anak akhirnya sadar juga. dengan dramatis dia bertanya," di mana ini, dimana ini?". aku yang jadi saksi mata langsung sama yoga menenangkan, meskipun masih takut-takut mengingat ketika teler ijo tingkah lakunya mendekati zombi. kami memberikan buku rapotnya yang nilainya sebenernya lumayan. ngasih tahu kalau tadi bu yuyun, sebagai wali kelas nanyain dan dijawab ijonya sakit. jadi dia boleh merasa aman saja. ijo juga sempat minta maaf ke semua temen karena kelakuannya yang 'dewasa' banget itu. dengan baju yang basah akibat dibanjur ijo bareng-bareng pulang sama aku. sesekali kuperhatikan ijo yang kusut banget hari itu tidak segagah ketika memakai baju pramuka dengan celana selutut yang sudah menjadi trademarknya itu.

dari obrolan sepanjang pulang, ternyata eh ternyata ijo belajar mabok itu ketika lagi kemping sama teman-temannya yang usianya lebih tinggi. anak sma gitu deh. pada suatu kempeing, si aa-aa sma itu bawa minuman penghangat (baca : beralkohol) ke gunung. katanya sih buat ngehangatin diri dari dinginnya gunung. lagian kalau nggak mau kedinginan mah jangan ke gunung, ya. atau bakar-bakaran aja di gunungnya (hus!). yah, namanya juga anak-anak muda lagi dalam tahap pencarian diri. dan ijo secara tidak sengaja jadi follower di antara mereka. lalu kecanduan atau mungkin juga ingin 'dianggap' udah dewasa. atau seperti klise pelajaran merokok, 'nggak enak menolak tawaran teman, jadi saya nyoba'. semenjak itulah ijo yang 'pramuka itu patuh pada ortu, pramuka itu sayang sesama' jadi pemabok kelas teri. hingga sadar hari ini ketika yoga dengan kejam membanjur ijo pake seember air sumur.

wah, kepanjangan cerita ijonya, ya? balik lagi ke ijo yang sedang mengajakku ikutan lomba napak tilas. oh, ya ijo di bagian ini ceritanya udah nggak mabok lagi. enggak tahu juga kalau tanpa sepengetahuan aku. yang jelas ijo yang ini pramukanya sudah khusyu lagi. buktinya dia dikirim sekolah untuk ikutan jambore di luar kota bersama kawan pramukanya.

demi ajakan itu, 'ditingker' saling berpandangan. wah, asyik juga buat kekompakan.
" kapan lombanya, jo ?" tanyaku tertarik
" tanggal sekian sekian...." sahut ijo seneng pancingannya mengena
" satu grupnya berapa orang, jo ?" opik mulai tertarik juga.
" maksimal lima " jawabnya.
cocok ! ujarku dalam hati. 'ditingker' juga berlima. tapi thinker plus ijo jadi berenam dong.
" pik, gimana? ikutan? " aku minta tanggapan opik.
" setuju, siapa aja jo kira-kira?" opik balik nanya ke ijo
" aku, kamu yan, kamu pik...si ugun..gun, mau ikutan ?" ijo ke ugun yang sibuk dengan catatan entah apa.
malah eka yang jawab, " aku mah gak bisa ikutan..ada acara !".
selalu begitu, eka di masa smp meskipun menyenangi petualangan pegunungan alpen yang ada chamonixnya tetapi untuk urusan berbau-bau keringat rada susah ngajaknya. padahal aku juga inginnya the thinker full ikutan.
" gun, ikutan nggak ?" sekali lagi ijo ke ugun.
ugun, yang udah konsen lagi ke forum mengangguk. artinya mau ikutan. seorang lagi tentu saja kang ombi putra pertama pak wahyo anak asli keturunan gunung gelap di garut selatan yang juga vokalis tetap the thinker. oh, ya ombi di jaman smp, seperti juga opik ikutan grup paskibra di smp. paskibra kan ada urusan fisik-fisiknya, sehingga bagi ombi ikutan acara ini merupakan bagian dari kesehariannya. dengan demikian pas sudah jumlah anggota tim napak tilas.

**

rencananya aku dengan ijo dan opik mau ngedaftarin tim napak tilas ini sepulang sekolah ke kantor polisi yang pada jaman itu letaknya masih terbilang dekat dengan sekolah kami. atas usul aku tim napak tilas kami dinamakan tim blazer. "artinya yang bersinar", jawabku ngarang aja ketika teman-teman lainnya menanyakan. "wah, bagus juga..." ijo langsung oke. opik tadinya menyarankan agar thinker rada dikenal, namanya thinker plus aja. yah, sedikit azas manfaat gak apa-apa, alesannya saat itu. tapi anak-anak lainnya menolak karena, pertama beda bidang garapan, yang kedua takut disangka ikut-ikutan kusplus, band jadul itu. jadinya disepakati bahwa nama timnya 'blazer'.

selain karena hobby dari masing-masing personil blazer, yakni berjalan kaki sambil bertualang, kami juga tertarik dengan hadiah uang yang dijanjikan oleh panitia. meskipun kami belum pernah bernapak tilas kemanapun, tapi dengan pengalaman setiap hari berjalan kaki ke sekolah serta pengalaman plus-plus dari masing-masing anggota mak kami yakin mampu mengikuti perlombaan ini. akupun secara kurikulum viti punya pengalaman yang bisa dibanggakan, yakni pernah lebih dari dua kali naik gunung. ijo dengan segudang pengalaman pramukanya (nggak termasuk urusan mabok). sedangkan opik dan ombi di paskibra. sementara ugun boleh berbangga hati karena ikutan diklat basket sepulang sekolah yang juga gak jauh-jauh dari urusan fisik.

untuk itulah, meskipun harus kembali menyisihkan uang jajan untuk patungan bayar pendaftaran kami tak menyesal. kalupun tidak menang, minimal bisa bangga karena pernah ikutan napak tilas yang gak semua orang bisa ikutan. lumayan jauh lho, lebih dari 30 km.

acara ini juga didukung berbagai pihak serta media elektronik radio lokal kami. gembar-gembornya sering terdengar di acara request lagu sore-sore menjelang malam. seperti malam itu, sehabis magrib ketika 'blazer' sedang ngumpul di basecamp pasundan setelah mengerjakan pr matematik dari bu marni. ada juga yoga yang rumahnya di muhammadiyah masih sodaraan sama pasundan.

" udah nelpon, uy !" kata yoga yang datang ke basecamp dengan sepeda bmxnya. maksudnya dia udah nelpon ke radio rugeri request lagu. nelponnya gak jauh-jauh, di telpon umum perempatan papandayan dengan uang logam gocapan.

begitulah, salah satu kewajiban kami bila mau ke basecamp harus request lagu dulu dan ngasih salamnya ke anak-anak. radio butut milik nenek sayapun dipancang di rugeri yang jam-jam segitu setia memutar lagu pilihan pendengar yang hingga sekarang masih setia di jalur am. semua khusyu mendengarkan. harap-harap cemas semoga yoga berbaik hati menyalami dirinya via radio. saat itu, hal-hal seperti ini ngetren di kotaku, tak peduli lagu yang diminta nggak diputer. biasanya sang penyiar dengan diktatornya bilang, 'gabung aja ya dengan yang lain' jika sang lagu request-an kita gak ada di list. jaman dulu gitu lho, muterin lagu kalu gak dari piringan hitam ya dari kaset. nggak secanggih sekarang dimana di komputer tinggal klik file mp3 meski bajakan.

akhirnya nama-nama kami disebut juga oleh sang penyiar, " ....lagu ini buat izo stradlin di pasundan,... ombi roses di cangkuang, ugun mckagan di pasundan juga....dan semua tim napak tilas blazer yang mau ikutan lomba pekan depan dari yoga di muhammadiyah, ucapannya selamat berlomba". cuma sekitar 15 detik aja dan besoknya di kelas biasanya jadi semacam kebanggaan. dan semua orang di kotaku secara otomatis tahu bahwa salah satu tim yang akan berlaga di lomba napak tilas adalah kami, tim blazer thea.

biasanya pula, besoknya salah satu dari teman sekelas kemudian menelpon lagi ke radio dan merequest lagu serta kirim-kirim salam. meski hari itu gak ada jadwal ngumpul di basecamp aku tetap memanfaatkan basecamp sebagai tempat nongkrong dan belajar serta tak lupa mendengarkan siaran radio request-requestan (jaman itu lebih terkenal dengan istilah pilpen, awas bukan 'pulpen'). siapa tahu ada yang iseng kirim salam.
" lagu ini juga diminta oleh otit di jalan guntur.... salam-salamnya buat izo di tong sampah.... ombi di jarian.... diyan di sawah....opik di solokan... dan tim blazer yang mau napak tilas polres, dengan ucapan selamat hah..heh..hoh...!" demikian penyiar dengan gayanya menunaikan tugas mulia menemani para pelajar yang lagi belajar malam-malam.
waduh, ngerusak reputasi tuh yang ngirim-ngirim salam di radio, umpatku. siapa tadi? otit? otit?...tito... wah dasar. awas ya besok di kelas ! sejuta rencana untuk menjitak kepala tito mampir di otak. tito is our friend too, kelakuannya emang konyol juga di samping otaknya yang patut diacungi jempol. tapi... senang juga ding, karena lagi-lagi blazer terpromosikan ke seantero kota. eh, emang untuk ikutan napak tilas perlu terkenal dulu gitu...?

dan tentang tito ini, emang beneran konyol. suatu ketika di sekolah diadakan lomba baca puisi antar kelas dan yang nanti menang antar kelas akan dikirim untuk mewakili sekolah dalam lomba sejenis dengan skala lebih luas.

fani oshin dari osispun sebagai humas osis berkeliling ke tiap kelas mencari siap-siapa wakil kelas yang akan berlaga di perlombaan. untuk urusan-urusan berani malu, anak-anak kelas gak pernah ada yang mau ikutan. ya, dong kan saya gak biasa ngomong di depan umum. apalagi baca sajak... mengerikan ! demikian rata-rata yang ada di pikiran anak-anak kelas 3 A.
maka ketika fani oshin bertanya lagi, " ayo ngacung, siapa yang mewakili kelas ini ?" anak-anak masih gak ada yang bersedia, baik cewek-atau cowok. fani oshinpun makin gak sabar, jadwal kelas lain untuk didatangi masih banyak, belum kelas duanya, belum kelas tiganya. "siapa?...ngacung...!" suruhnya pada anak-anak kelas yang pada kebingungan. hingga...
" saya... !" ternyata tito yang ngacung. anak-anak kaget bercampur kagum, hm... gak nyangka.
" siapa namanya ??" fani oshin yang 'hampir dikenal semua anak dari kelas satu sampe kelas tiga tapi dia gak mungkin mengenal semua orang yang mengenalnya' itu nanya makin gak sabar.
" apid permana !" jawab tito seenaknya. anak-anak terkesiap sebagian siap-siap ketawa.
fani oshinpun menulis nama 'apid permana 3A' dan langsung minggat dari kelas kami.
tinggallah apid permana, teman sebangku tito yang mencak-mencak karena namanya dicatut tito. sementara tawa teman sekelas pecah sembari merestui apid permana untuk mewakili kelas dalam lomba baca puisi. sementara apid makin kesel dan pindah bangku ke pojok belakang langsung merajuk sendirian curhat sama tembok... hik..hik... hik...

**

Rabu, 29 Juli 2009

pintu 4, misteri lampu merah....




the thinker sedang terkesima, tepatnya terkagum-kagum melihat permainan gitar taher. intro 'sweet child o mine' GNR dimainkan taher dengan cara seperti mengetik di mesin ketik. konon, itulah yang dinamakan teknik 'typing'. salah satu seni memetik gitar yang katanya dipopulerkan oleh edi van halen. taher sendiri memainkannya begitu menikmati. sambil senyum-senyum sendirian. di sisi lain heri memainkan dram dan jodi pada bas.

opik kelihatan serius memperhatikan heri yang menggebuk dram penuh energi. asli, 'ditingker' yang baru sekali ini masuk studio musik seperti orang udik masuk kota besar. "oh, yang namanya drum itu kayak gini,ribet dan banyak yang harus dipukul... yang namanya bass bentuknya gini senarnya gede-gede....yang namanya gitar listrik itu ternyata gak bolong..." kira-kira begitulah yang ada di benak para calon pegawai band ini. mungkin cuma satu yang mereka kenal, yakni mikrofon yang suaranya sember dan tiangnya cukup memprihatinkan, gak bisa berdiri tegak. secara ombi sering adzan di masjidnya jadi dia cukup paham bahwa yang bulat panjang itu namanya mikrofon.

**

hari itu, for the first time the thinker nekad ingin merental studio musik. meskipun mereka belum kompak dan briefingnya belum banyak. kata opik, biar tahu dulu. biar mengenal medan dan nanti gak kuper lagi. kebetulan taher dan bandnya yang katanya dadakan bersedia mengantar 'ditingker' ke studio dan memberikan les privat ngeband secara gratisan. jadilah dengan malu malu mau 'ditingker' berangkat ke studio musik kondangrege selepas bubaran sekolah.

tanpa ganti baju tanpa ganti celana seragam biru puth dan belum pada shalat dhuhur mereka berbondong-bondong menunaikan tugas mulianya sebagai pejuang band masa depan.

"tahu kan kondang rege,... jalan barakatakyuda..." kata taher, tadi pagi waktu istirahat.
" tahu,... yang deket korem...!" sahut opik sok tahu.
" iya, nah nanti ditungguin di depan jalan kondangregenya... studionya mah jalan lagi ke dalam..." jelas taher." nati kita bareng dari sana..."
" kenapa gak bareng dari sini aja...?" tanyaku heran.
" soalna, urang mah rek mabal jam pelajaran terakhir sama si heri..." jawab taher enteng.
" oh.." anak-anak the thinker pada maklum.

**

karenanya sepulang sekolah, ditingker kasak-kusuk patungan uang buat rental mobil. kok mobil? sorry, maksudnya rental studio musik. semalam mereka briefing sebentar di basecamp pasundan. tapi bukan briefing yang genjrang-genjreng, cuma menyamakan persepsi. namanya juga baru ngeband yang namanya persamaan persepsi dan saling memotivasi dirasa perlu bagi mereka. salah satu kesimpulan dari briefing itu adalah bahwa untuk sewa studio bayarnya patungan, posisi personil dengan alat musiknya sesuai kesepakatan awal, dan kalau mau rental gak pulang ke rumah dulu.

lalu mereka menyusuri pengkolan, keluar masuk gang menuju kondangrege. maksudnya sih jalan alternatif biar cepet sampai di tujuan. tapi jadinya malah kacau karena nyasab melulu. aku dan opik sering beda paham arah mana yang benar. namun demikian kami menjalaninya dengan senang hati. namanya juga perjuangan awal, pastilah ada pengorbanan.

sebenarnya bisa aja naik angkutan kota yang menuju daerah kondangrege. cuma jalan bentar ke tempat angkot biasa mangkal dan kita akan dibawa sang supir ke tujuan. namun demi pengiritan, anak-anak ditingker rela berjalan kaki untuk ke kondangrege. lagian, kata opik juga deket. tapi man, jauh oge uy ari ti sakolaan mah.

akhirnya setelah berjalan, tersesat, berdebat, dan menahan lapar sampai juga kami di tujuan. dari jauh udah kelihatan taher dan heri lagi nongkrong di sebuah kios rokok pinggir jalan. alhamdulillah, jadi juga masuk studio. wah tambah deg degan. he he kayak mau menghadapi apa aja.

" udah lama, her..her...!" sapa opik. her..her di sini maksudnya bukan 'her' yang ulangan perbaikan itu. kan, yang satu taher, yang satu heri, tapi panggilannya sama her. makanya opik tadi menyapanya her her....
" nggak.. aku dari rumah heri dulu barusan" jawab taher. taher udah gak pake seragam lagi. ke bawah pake celana jins sedangkan ke atas pake kaos hitam bertuliskan nama salah satu band metal.
" hayu atuh,ke sebelah mana?" tanya opik sembari ngajak. bingung kan, ngajak tapi teuing kamana. parah, parah...
" tunggu bentar,... si jodi belum datang!" jawab taher.
" oh masih ada toh...." sahut kami
" iya ... jodi yang main bas, ngajarin ugun..." jelas heri kalem.
jodi yang dimaksud adalah anak kelas dua. aku mengenalnya sebagai teman dari sepupuku. gak nyangka juga, diam-diam jodi bisa main bas. heri yang kukenal juga baru kutahu bahwa dia seorang drummer. tahunya, dia cuma jago main basket. hebat..hebat.

tak lama seseorang turun dari angkot di hadapan kami. jodi. senum ramah dan menyapa kami satu persatu. jodi kelihatan malu-malu. secara dia itu adik kelas dan kami kakak kelas jadi masih wajar kalau agak canggung.

jodi memberikan bungkusan panjang pada heri. " stik !" jawabnya pendek ketika opik menanyakan.
"wah, aku gak bawa stik uy...!" seru opik khawatir
" emang punya kitu ?" tanyaku
" enggak !" jawabnya spontan.
xa xa xa... semua pada ketawa. dasar.

"nggak apa-apa, pake aja yang ini..." kata heri. " biasanya di tempat rental juga ada.." sambungnya.
" iya, asyik atuh..., nanti aku juga mau beli..." kata opik lagi.
rombongan tukang bandpun beriringan menuju studio tanpa peduli pada para warga yang melihat dengan aneh. ada apa nih. tawuran? penyerbuan? mungkin seperti itu pikiran para warga kondangrege.

sebenernya anak-anak ditingker rada risi juga melewati tempat tersebut yang lumayan padat. kondangrege merupakan nama jalan dan juga kampung kota ( maksudnya kampung yang ada di kota... daerah padat penduduk, daerah padat penduduk !). jadi warganya lumayan banyak. ada beberapa pemuda yang sedang nongkrong di depan sebuah gang. tato tersembul di tangan mereka yang cuma memakai kaos dalam doang. hiiiy... reman. anak-anak 'ditingker' merasa perlu 'pupuntenan'ketika melewati mereka biar nggak disangka nggak sopan. sementara taher dan genk cuek bebek aja. mungkin mereka udah biasa.

ujung jalan kondangrege agak-agak buntu. aneh juga, jalan kondangrege ternyata nyambungnya ke daerah sawah-sawah. untunglah taher nggan membawa kita ke sawah, tapi berbelok kiri masuk gang kecil. bulak-belok lagi dikit. ke kiri kanan, kiri, kanan lagi dan tibalah di sebuah rumah model jadul. nggak jadul-jadul juga sih yang jelas rumahnya udah tua. langit-langit bilik bambu di berandanya terlihat hitam kotor. mungkin karena keseringan kena bocoran air hujan dari atap genteng yang letaknya gak bener. dari sebuah ruangan terdengar bising gak karuan. kali itu studionya, pikirku. sepertinya studio sedang pake. di depan pintu 'studio' berserakan sepatu-sepatu lusuh berbagai merek. di kaca 'studio' tertempel kertas bertuliskan : 2500 per jam.

di depan 'studio' ada bangku panjang dari kayu yang udah mengkilap karena terlalu sering diduduki ( emang itu fungsinya, kan?). tanpa disuruh anak-anak 'ditingker' duduk di bangku tersebut. dasar konyol, pada berebutan.
" aku dulu..." kata eka kesenengan.
" urang kadua... " sambung ombi. lalu ugun idem.
berhubung bangku tersebut nggak terlalu panjang, maka yang lain cuma nitip pantat aja. duduk nggak, berdiri nggak. akhirnya pada berdempet dempetan saling berdesak-desakan. gak karuan.
"naon... ieu, naon ieu..!" eka protes berat.
ombi malah ketawa-ketawa sama aku. opik berinisiatif buruk. mengumpulkan tenaga sisa lalu dengan full power dia memepet anak-anak hingga pada bergeser berdempetan ke sisi kiri. dan dengan tanpa dosa menguasai bangku itu sendirian.
"udah..udah..." heri menetralisir. tapi tak urung dia senyum-senyum juga ngelihat kelakuan temen-temennya yang sableng ini. dia lalu mencoba mengintip ke dalam studio. aku berdiri dan nyoba ikut mengintip dari sela-sela kaca jendela. nggak kelihatan juga. akhirnya aku turut duduk-duduk sama taher dan ugun di lantai. sementara bising studio masih belum juga reda. kamipun ngobrol agak-agak berteriak.
" masih lama nggak, ya her ?" tanya taher ke heri yang mencoba mengintip.
" bentar lagi.... udah merah tuh !" jawab heri.

udah merah? mahkluk apa pula itu? anak-anak 'ditingker' bertanya-tanya dalam hati.

dua menit kemudian suara bising yang entah lagu apa tadi selesai. beneran, mending pada diam aja kali jangan ngeband kalu cuma bising begini. terdengar dari dalam studio suara orang-orang yang lagi meletakkan alat musik. sesekali suara (yang katanya sih) simbal dipukul asal terdengar.

empat orang aa-aa keluar dari ruangan studio. mereka masih memakai seragam sekolah sma. senyum ramah pada anak-anak yang udah gak sabar ingin nyoba masuk studio. anak-anakpun membalas senyum ramah aa-aa tadi. para aa tadi berebutan mengambil sepatu sing masing. nyerocos gak jelas sambil ketawa-ketawa juga.

" ayo, masuk..!" ajak taher pada semuanya.
anak-anakpun dengan bergairah memasuki ruangan 2,5 kali 2,5 meter. bau asap rokok masih tersisa. gitar bas berdiri di sudut ruangan. begitu juga gitar listrik. satu lagi tergantung di dinding. inikah studio musik? gak ada peredam suara. pantes bising. beu ! bener-bener seadanya. tapi bagi kami terasa mewah saat itu. ada juga dua buah lampu warna : hijau dan merah. di sudut-sudut, merapat ke dinding tiga buah box sound system hitam tanpa merk. ada pintu yang menghubungkan ruangan studio ini dengan bagian rumah

kepala seorang aa-aa nongol dari balik pintu itu.
" sabaraha jam?" tanyanya pada kami
" dua jam !" taher yang jawab. si aa-aa masuk lagi. taher mencolok-colokkan kabel alat musik ke sound system. tiba-tiba, brenggg... rupanya sound sytem sudah dinyalakan lagi. ternyata semua pengatur sound system ada di ruangan dalam.
" sok yan,... kalian dulu..." ujar taher pada kami
" asyik euy...asyik euy....!" opik kegirangan langsung menuju set drum. duduk dengan tidak manis sambil mencoba memukul-mukul drum sekenanya seenaknya.
" gimana ini teh, her?" selanjutnya dia kebingungan sendiri dan memohon petunjuk heri. heri menghampiri dan kelihatan memberikan instruksi pada opik.
" never say goodbye, yan?" tanya taher lagi. aku cuma ngangguk. gitar listrik udah di tangan. taher ngambil gitar yang tergantung di dinding. selanjutnya memberikan instruksi chord dan melodi dasar lagu request-an tadi. eka dan aku sebagai petugas gitar dengan penuh takzim mendengarkan wejangan sang master.

ah, babari geuningan. kuncina bulak-balik. A Cis G D A Cis G D. reffnya agak beda dikit. introna kitu. ugun juga dikasih instruksi serupa oleh jodi yang masih tetap merasa canggung. untung saja kemarin kita sempet dengerin lagunya sebentar di radio, jadi susunan intro chorus reff dan seterusnya masih hapal.sedangkan ombi membuka-buka buku teks lagu, kebingungan nyari lirik never say goodbye

sekitar seperempat jam anak-anak 'the thinker' mendapat pelatihan singkat lagu neversay goodbye. setelah semua pada yakin, dengan bismillah maka...

"tak tak dug dug... teeeng..teeeng teeeng...teeeng.....teeeng teengg teng teng teng teng teng teng teng teng....(itu teh intro, pren!)... as i sit in this smokey room.... ombi dengan penuh perasaan menyanyikan lagunya bonjovi. horee !!!! kita udah resmi jadi anak band !!! jerit anak-anak dalam hati. pasti mereka sedang bangga pada diri sendiri, ketahuan dari senyum dikulum yang tergambar di wajah masing-masing. ih, norak pisan !

karena baru bisa lagu itu, maka diulang-ulanglah lagu itu. pas interlude yang menurut istilah kami 'melodi' aku kebingungan. yang bagian ini nih yang susah. lagi-lagi taher memberi jalan keluar. beliau ngasih tahu gini-gininya. karena aku baru belajar juga, maka melodi neversay goodbyenya disimpelkan aja sama sang suhu.

mungkin sudah sekitar 4 kali, never say goodbye kami mainkan. kalau kaset mungkin sudah 'ngageol'. dan selalu saja ada salah satu dari kami yang melakukan kesalahan. maka dengan sabar, lagu diulang lagi. ombi udah serak aja suaranya. untungnya masih tetap semangat tinggi.

**

dengan sukses, band nya kang taher (yang katanya berjudul changkilung) menyelesaikan lagu sweet child o mine, i remember you, seek and destroy, dan bara timur. yang jadi vokalnya heri sambil ngedrum. permainan mereka rapi banget. udah pengalaman sih. aku yang baru kali ini lihat taher maen gitar jadi merasa gak ada apa-apanya. ya, iyalah kan belajarnya baru bab kunci-kunci. " nanti juga bisa, kalau sering latihan ". begitu taher menyemangati setiap kali aku bilang, "wah, susah eta mah, win ! "

tiba-tiba lampu merah menyala untuk yang kedua kalinya. berarti satu lagu lagi. oh, merah merah teh itu maksudnya. begini, pada saat pemakaian studio dimulai, maka lampu berwarna hijau menyala sepanjang penyewaan. nah, pas waktu penyewaan habis, lampu merah menyala, hijau mati. itu menandakan waktu hampir habis. kalau dalam bola mah 'injury time'. he he kereatip juga yang punya studio ini. warna merah juga menandakan bahwa kita masih boleh memainkan satu lagu terakhir. pikir yang punya studio, paling cuma lima menit. tapi aku berpikir lain, bagaimana kalau lagunya dimedley, remix 30 menit lagu-lagu nostalgia 70-an. "ya, dimatiin dong langsung dari dalam...." tukas heri ketika aku menanyakan hal itu. iya juga ya, emang mereka gak pake otak.


dan...hari itu sepertinya menjadi hari bersejarah kedua bagi anak-anak 'ditingker' karena telah berani melangkah lebih jauh dengan tidak hanya ngeband dalam teori saja. mereka udah mulai berpraktek meskipun jatah uang jajan harian terpotong untuk patungan menyewa studio. meskipun nanti-nanti harus melewati para reman sepanjang jalan menuju studio. dan mereka juga harus berterima kasih pada the changkilung band karena telah memberi jalan 'ditingker' untuk menjadi band yang sesungguhnya.

selamat ya... selamat ya.... selamat ya..


(sorry, bab ini rada ngacapruk, udah ngantuk.....)

Selasa, 28 Juli 2009

pintu tiga, vokalisnya ......




seger banget. pelajaran biologi pa sukrianya gak ada. dua jam pula. jadinya cuma nyatet-nyatet gitu. maka the thinkerpun kembali terlibat briefing dadakan. info terbaru datang dari opik.

" kata si taher, di kondangrege per jamnya 2500 perak, buat pemula seperti kita mah cukupan..." kata opik setengah berbisik. raut mukanya menunjukkan semangat saat menginformasikan hal ini ke anak-anak.

aku dan eka harus memutar badan untuk bisa ngobrol dengan opik karena mereka duduk di belakang kita.

" iyalah, nanti kita patungan...." kataku

murah banget ya sewa rentalnya ? jangan salah, itu di tahun 90-an awal, man. rata-rata rental studio musik berkisar 2500-3000 per jam. duh, udah gak tahan pingin masuk studio. pingin nyobain kayak apa megang gitar melodi itu. tahan dulu, yan....

" tapi, kayaknya kita butuh vokalis deh..." usul eka.
" kalo kebanyakan nggak ngerepotin...?" jawabku asal, dan nanya lagi.
" setuju euy... biar semua bisa fokus.." opik langsung menyela.
" iya ding... nanti di panggung pasti repot, nyanyi sambil main alat musik..." ugun menyambut baik usul eka.
" tapi, siapa...?" aku kepikiran juga.

anak-anak memandangi teman-teman sekelas yang lain yang beraktivitas macam-macam di jam kosong. ijo, yang jangkung... ah dia lebih cocok jadi km dan pramuka daripada vokalis. yoga yang juga taher, gak bisa nyanyi, jagonya cuma basket. tito, nggak jelas visi bermusiknya. nanang yang reman, cuma jago teriak 'poison oke poison !' doang, jangan-jangan dia malah drinking di panggung. gawat, gawat.

" siapa dong, pik ?" tanyaku gak sabar. opik menggeleng. kembali kami menata teman satu-satu. erik, ah dia mah jetset.. rada-rada belagu. sony,... meskipun beberapa hari lalu saya antar beli kaset ektreme II dan suka dengerin GMR tapi kelihatannya cuma asyik sebagai pengamat. anak-anak ceweknya, nggak mungkin sekali... cuma sofi yang kelihatan gaul, tapi jangan dulu deh. bukannya nggak peduli emansipasi. tapi pasti bakal ribet. lagian kita belum begitu dekat.

"ada ide, yan ...?" opik yang balik nanya. giliran aku yang menggeleng. ugun seperti biasa menatap keluar jendela sembari berlagak mikir. eka yang punya ide malah lagi bikin sajak. kelihatannya cuma aku sama opik yang semangat nyari vokalis buat the thinker.
" ini teh, harus teman sekelas...?" tanya opik
" iya, biar bisa kompak luar dalam " kembali aku asal menjawab. coba, kompak luar dalam apanya?

aku dan opik kembali menilai teman sekelas satu persatu. tedy, gak mungkin... dia ada sesuatu. ivan,.. kelihatannya nih anak gak suka musik. kentut melulu. syarif, wah..apalagi yang ini. rumahnya dimana aja gak jelas. siapa donk?

"vokalisnya ombi aja...." tiba-tiba eka nyeletuk
kami berpandangan. tanpa berargumen aku langsung setuju. ombi temen deket sejak kelas satu. cuma kelas dua dia gak sekelas. opik juga setuju, ombi temennya di kelas dua D, juga temennya di paskibra. ugun setuju juga karena ombi adalah temen sekelasnya di kelas tiga A. tapi...
" si ombi bisa nyanyi ga ya...?" kata opik entah nanya pada siapa.
" emang kamu udah jago ngedrum, emang saya dan eka gitaris jadi, emang ugun basis handal..?" kataku retoris."... justru bagus, kita belajar bareng semuanya dari nol..."
" dan lagi, yang du ribu limaratus kalau dibagi lima bisa pas, patungannya 500-an..." sambung eka santai.

he he ,...iya juga ya. asyik lah. the thinker nambah seorang lagi, ombi. eit..., tapi jangan seneng dulu. ombinya maueun nggak. opik yang berinisiatif jadi delegasi ke bangku ombi di dua baris ke tiga dari belakang. ombi sebangku sama sony.

" mbi, kadieu guera..." ajak opik
" apa, pik..?" jawab ombi menghentikan aktivitas tebakan sama sofi di bangku depannya. mengikuti opik menuju bangku kami.
" apa..apa ? hai, yank..." sapanya padaku.
" sok, yan... jelaskeun..." kata opik

" gini, mbi...bla, bla bla, bla, ba, bla " akupun menjelaskan panjang lebar terbentuknya ditingker dan diakhiri dengan tawaran jadi vokalis tanpa proposal yang berbelit-belit.

mata ombi bergairah. kelihatan dia tertarik.

" buat perpisahan ini teh ?" tanyanya meyakinkan.
" iya... jangka deketnya begitu...jangka panjangnya mah yah, buat selamanya..." jawab opik.
" hayu, lah..."

alhamdulillah, ombi udah mau. sekarang kita berlima. bon jovi awal-awalnya berlima. GNR berlima juga. slank juga berlima sampe sekarang. kayaknya dengan berlima bakalan sukses seperti mereka. mudah-mudahan.

konfrensi bangku persegipun dimulai lagi. ombi sang vokalis menyimak dengan serius penjelasan opik bergantian dengan aku. eka seperti biasa nyeletuk. ugun the basis, masih setia dengan kekalemannya. kayaknya semua basis emang begitu, ya. santai. kalau personil lain sibuk berdebat, basis gak kepengaruh. perhatiin aja, saat rata-rata band, kalau gak ganti vokalis, drummer maka dipastikan gitaris yang cabut. jarang basis yang sok eksis. berbahagialah wahai para basis dengan kesabaranmu.....

rencananya besok the thinker mulai latihan di studio dengan menyewa secara gratis taher sang master gitaris. tempatnya di rental studio kondangrege. ssttt... tapi ini masih proyek rahasia lho. jadi cuma anak-anak thinker yang tahu dan guru taher aja. makin asyik aja kita ngeband, bro.....