Selasa, 28 Juli 2009

pintu dua, briefing in basecamp




setelah hari proklamasi band baru itu aku semakin semangat saja. biasanya, sebelum jam pelajaran mulai kami diskusi kecil-kecilan dulu tentang kans band ditingker ini. dalam jangka waktu dekat kita akan manggung di acara perpisahan yang terhitung masih di atas enam bulanan lagi. wah, deg-degannya udah kerasa dari sekarang. he he padahal belum latihan, belum apa-apa.
" udah ngasih tahu ke si taher?" tanyaku sedikit berbisik pada opik di sela-sela pelajaran olah raga yang saat itu masih senam-senam pemanasan dengan komando guru olahraga.
" udah, dia mau ngebantu kita kalau latihan...." sahut opik sambil mata tetap konsentrasi pada gerakan senam guru OR.
" latihannya di mana? " tanyaku lagi gak sabar.
" di daerah kondangrege..."
" berapa bayarnya ?" eka yang posisinya di belakang opik ikut nimbrung.
" gak tahu....tapi katanya tempatnya enak..." jawab opik. sekarang gerakan senamnya udah pada gerakan kombinasi yang naik turun itu.

asyik.... bikin band ternyata mengasyikkan. atau tepatnya bikin geng ini mengasyikkan. ada semacam ikatan antara satu sama lain. memang dengan teman sekelas kita saling terikat juga, tapi dengan kelompok yang lebih kecil seperti ini lebih menyenangkan. apalagi untuk sementara kita merahasiakan diri dulu. belum go publik bahwa 'the first band in class' udah lahir. jadinya kita ngomong bisik-bisik atau pake isyarat. bahkan untuk latihanpun kita punya sandi tersendiri. pinginnya anak-anak lain di kelas tahunya kita udah ..jreng... manggung.

karena itu sepulang sekolah, saat yang lain sudah pada keluar kelas the thinker masih duduk-duduk saja di bangku masing-masing. santai-santai setelah pelajaran matematika.
" kan, perpisahan... kita akan memainkan 'never say goodbye'" kataku para personil the thinker lainnya.
" bon jovi ?" tanya opik
" iya, momennya tepat... lagunya cocok. tentang perpisahan.." jelasku meyakinkan. padahal mah sok tahu aja. lagunya juga baru dengar beberapa kali. sementara liriknya juga tidak tahu bercerita tentang apa. cuma judulnya menurutku cukup keren untuk sebuah momen akhir sekolah.

" iyalah... gak apa-apa... siapa yang punya kasetnya? aku pinjam...biar kupelajari ketukan drumnya..." ujar opik

ternyata dari semua gak ada satupun yang punya album slippery when wet-nya bon jovi. lagi-lagi...
"gak apa.. nanti kita pinjem ke si taher..." kata opik " semoga dia punya..."
" nanti kumpul di basecamp, ya..." ajakku pada semua.
" jam berapa? " tanya eka.
" biasa aja" jawabku. biasa berarti sekitar jam empatan sore.
the thinkerpun membubarkan diri dari kelas. bukannnya bubar seperti band-band yang udah sukses atau baru setengah sukses itu (atau yang belum sempat sukses juga). lha wong, bandnya aja baru didirikan he he...

**

" si taher gak punya kasetnya...." opik setengah menyesal membuka pembicaraan. di basecamp hanya ada aku, ugun, dan dia. eka yang rumahnya agak jauh dari tempat tinggalku belum datang. dia emang terbiasa telat. yang namanya basecamp adalah sebuah ruang baca di taman bacaan pamanku yang dikelola aku sama nenekku. biasanya setelah mengerjakan pr bareng anak-anak baca-baca buku komik atau novel atau majalah yang ada di ruangan itu. aku sendiri sepulang sekolah kalau gak ada acara (duh, kayak seleb aja 'acara') suka bantuin nenek menunggu taman bacaan yang menyewakan bermacam novel dan komik. sebagai gambaran taman bacaan yang kami kelola pada waktu itu menyewakan secara lengkap semua seri khopinghoo, novel-novel roman picisan, komik lokal dari berbagai pengarang baik cerita fantasi ataupun silat macam djair, ganes th, adhi, hasmi, wid ns, nono gm dan sebagainya.

" jadi gimana dong, kalau gak ada kasetnya?" aku bingung sendiri. he he aku yang mengusulkan, aku yang kelabakan. lagi-lagi....
" katanya si taher sama heri ngebantu gimana melodinya juga cara dramnya..." jawab opik. " katanya mudah..."
"ya udah, ini teks lagunya udah dapat..." kataku sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan teks lagu never say goodbye. tadi waktu beres-beres meja belajar nemu buku lagu (jaman itu, mereka yang katanya kreatif dan hobi nyanyi suka 'niat' nulis lirik lagu di buku tulis bergaris atau perca-perca kertas yang dibikin buku, dan aku secara tidak sengaja juga suka nulis-nulis teks lagu di buku tulis). dan di dalamnya ada teks lagunya bon jovi tadi.

gitar yang sejak tadi dianggurin (maksudnya didiamkan..) diraih opik.
" kunci A itu gimana yan...?" tanyanya.
aku menjelaskan sambil membetulkan letak jari opik di senar. tapi, ya Allah, itu jarinya keras amat. susah banget meletakkannya di tempat yang benar. kayak memegang kayu aja...
" lemesin dong jarinya..." printahku jengkel
" iya,.. gini.." sahut opik dengan wajah innocent. ugun udah cengar-cengir aja ngelihat kelakuan opik.
" ah, hese pisan...." kesabaranku habis juga, dan meninggalkan opik dengan gitar bolongnya. lupa, mereka belum dikasih air minum. aku bergegas ke dapur. sebotol air kulkas dan sebuah gelas. sajian khas buat ngejamu teman sekelas. iya, kan.

" gimana gun, kunci A itu ?" opik masih tetap semangat belajar kunci A.

giliran ugun, yang sebenernya juga baru belajar gitar, gantian ngajar opik dengan susah payah. untunglah karakter ugun kalem. jadi dia bisa sabar meletakkan jari-jari concorang opik yang kakunya minta ampun itu.

saat aku kembali ke ruang baca, opik baru saja berhasil meletakkan jari-jarinya di gagang senar dengan baik. jreng..... dia menggenjreng gitar sekenanya. masih fals.

" fals tuh, nggak bener grip-nya...!" komentarku. " atau neken senarnya kurang keras..."
"sakit..uy...udahan ah...!" sahut opik sambil meletakkan gitarnya begitu saja di meja yang ada di depannya. " besok belajar kunci B, ya gun...!" lanjutnya.
" yan, kunci B, gimana ?" ugun malah kebingungan. maklum sama seperti aku, dia juga baru belajar nada dasar C. kunci-kunci yang mudah dulu. sementara kunci B menurutku yang baru belajar rada susah.

aku mengambil gitar bolong yang dari fisiknya kelihatan udah cukup uzur. sebuah model gitar akustik klasik dengan batang leher cukup lebar. fret-fretnya udah mulai gak rata. untungnya, suaranya masih nyaring karena lubang suaranya cukup besar. senar-senar dari nilon merentang tegang. tidak dari kawat seperti lazimnya. kata rahmat, biar kita mudah belajarnya dan tangan tidak terlalu sakit. bagi aku yang baru belajar main gitar tetep aja sakit. ujung-ujung jariku mulai mengeras karena keseringan latihan kunci-kunci. kata rahmat, semua yang awal-awal main gitar pasti begitu. dan karena ingin bisa maka aku pasrah aja. tapi asyik. apalagi kalau ada lagu baru yang dipelajari.

" ini kunci B, gun !" tunjukku sembari memperlihatkan pada ugun. cara belajarnya emang gitu. belajar by lagu dan by nanya. jadi dikasih dulu coretan lagu beserta lirik dan gambar kuncinya. itu dulu kunci-kunci yang dipelajari sampe hapal. juga kalau nanya, macam opik tadi.

ugun memperhatikan. mengingat-ngingat. lantas menggambarkan kunci itu di halaman belakang bukunya tulisnya, entah di catatan pelajaran apa. nambah lagi nih ilmunya, pikirnya dalam hati.

ugun, yang teman sekelas denganku sejak di tk adalah juga tetanggaku. rumahnya cuma terhalang tiga rumah dariku. jadi cukup kompak dengan aku. kini sekelas pula di kelas tiga smp. udah jadi solmet aja nih anak. sebenarnya solmetku yang sejak sd ada lagi. namanya riki. berhubung pas smp beda sekolah, kita jarang-jarang lagi berhubungan dengannya. apalagi pas keluarganya pindah dari pasundan ke paseban. secara jaman itu hp belum tren. telepon rumahan saja masih sedikit. di rumahku juga waktu itu belum ada telpon rumahan. masih inget, jaman dulu kami nitip ikut nomor telpon rumah tetangga dengan pesan, " tetangganya baik kok, pasti disampein, ..." he he... kejamanan kan ?

balik lagi ke the thinker yang udah bulukan nunggu eka. sambil nunggu sambil genjrang-genjreng. aku baru apal dua lagu. sendirinya "may" sama unchained melody. ugun juga sama. opik yang nyanyi-nyanyi gak karuan. kakinya berlagak menginjak pedal big-drum. tangan kanan berpantomim memukul hihat, sementara tangan kiri bergaya memukul snar dram. sesekali dengan seenaknya dia bikin gerakan roffle yang berakhir di kepala ugun yang dianggapnya simbal !

sendiri... uncahined melody.... sendiri lagi... unchained melody lagi. giliran ugun. sendiri dengan dipetik basnya aja.... unchained melody lagi basnya doang.... sendiri lagi basnya doa.... unchained lagi basnya doang. ajaibnya, kita gak bosan. sementara roffle opik makin gak jelas. tas gendongnya udah jadi snar dram. pulpen jadi stik. dan kepalaku yang mulai jadi simbal. aku gak protes malah ketawa-ketawa aja. senang juga ngumpul-ngumpul kayak gini dalam rangka main band. padahal besoknya ada ulangan fisika pak jamhari. ah cuek aja.

**

akhirnya eka datang setengah jam kemudian. dianterin bapaknya pake carry. sementara band ' sendiri plus unchained melody' udah break sepuluh menitan lampau. dipikir-pikir bosen oge... euweuh kamajuan. laguna eta-deui eta deui.

"sorry..sorry, rada telat... tadi di rumah ada urusan...!" kata eka langsung minta maaf.
" gak apa-apa, kok...!" jawab kami kompak. padahal udah gondok ditanam lebih dari sejam. sementara muka kami senyum lebar pada bapak eka. bapak ekapun pamit seraya mengingatkan eka bahwa nanti akan dijemput lagi. kalau gak ada bapak eka pasti udah kena ledek abis tuh cep eka.

sementara eka dengan cueknya langsung meraih gitar. mengenjreng-genjreng dikit.
" yan, lagu bonjovi teh ada ?" katanya di sela main gitar.
" gak ada, baru teksnya aja..." jawabku datar
" lagunya teh yang gimana...? tanyanya lagi

aku mengambil kertas berisikan teks neversay goodbye. " es ai sit in dis semoki rum....' yang kayak gitu " jelasku sambil menyanyikan sebaris lagu bon jovi. eka ngangguk-ngangguk aja. nggak tahu mengertieun apa engga.

aku sendiri bener-bener merasa bahagia saat itu. gila, kita anak band gitu lho. meskipun belum pernah latihan di studio, apalagi manggung. awas the thinker akan menggetarkan jagat musik smpn 1. he he sesumbar kita sesuai relitas aja ya. smpn 1 terlalu gede kali, jagat musik kelas tiga A aja deh, malu sama taher.

malam itu kami dengan semangat menggebu berkhayal apa jadinya the thinker bila udah ngetop. paling tidak kalau beneran bisa manggung di perpisahan. pasti seru. padahal nyanyi di depan kelas aja kita pada malu-maluin. apalagi di panggung yang ditonton' berjuta-juta' pasang mata teman-teman sesekolah. ah, gimana nanti aja. ini mah ngeband. tapi kalau matematika, ka bu marni, harus 'nanti gimana?'

pintu 1, first band in the class

bagian 1, first band in the class

waktu itu sedang jam istirahat. kita masih juga di kelas. tak ke kantin atau duduk-duduk di teras seperti yang lainnya. tidak juga mencari keringat seperti anak-anak lainnya di lapang basket sekedar mendapatkan perhatian dari adik-adik kelas biar disangka jago basket.

juga lupa lagi, entah sedang mengerjakan apa di kelas itu saat seseorang dari kita berkata," bikin band, yuk?". mungkin dia itu opik atau eka. atau juga aku sendiri yang baru belajar main gitar kunci dasar am dm c. sebuah ajakan yang yang menurutku menarik dan tanpa alasan aku langsung mengiyakan seraya memikirkan sebuah nama band.

" siapa aja?" tanyaku
" kita aja dulu...., aku, kamu, eka dan ugun..." jawab opik. berarti dua bangku belakang di kolom empat dalam peta kelas.

sebuah klise masa smp. main band. biasanya menjangkiti remaja laki-laki puber yang baru belajar main gitar dan baru saja akrab dengan metallica, guns n roses, ektreme dan sebangsanya. di samping juga sudah mulai melirik-lirik lawan jenis dengan harapan mereka tahu kalau ' saya itu tahu musik, bisa main musik,punya kaset-kaset metal berbagai aliran, dan juga anak band'.

" kamu bisa main alat musik apa?" tanyaku lagi pada opik yang kelihatan paling bersemangat.
" drum !.." jawabnya. ketahuan kalu dia ingin banget di band ini sebagai drummer.
" iya ?" selidik eka gak yakin.
" baru mau belajar...." jawab opik malu-malu. " tapi udah sering ketuk-ketuk di rumah...."
" gak apa-apa, kita juga baru pada belajar main gitar, kan ka..." kataku.

aku, eka, dan ugun memang terhitung telat memegang alat musik berdawai enam itu. bahkan belum sekalipun megang yang namanya gitar listrik. baru kemarin-kemarin belajar menggenjreng ketika seorang teman dari kakak sepupu meminjamkan gitar bolong sederhana ke kaka sepupuku. aku turut belajar dengan coretan chord yang mudah-mudah dari rahmat, teman kaka sepupuku itu.

dan hebatnya, baru tahu empat kunci sudah bertekad membuat band. sementara eka dan ugun belajarnya dari aku. setelah belajar bersama di rumahku yang dibuat basecamp, kami belajar menggenjreng gitar. aku menulis lirik lagu yang sedang kami pelajari yang di atasnya ada kunci-kunci gitarnya. sementara gambar chord gitar yang dimaksud ada di pinggirnya.

" jadi aku main gitar melodi, eka ritem, ugun bas..." kataku menjelaskan.
" wah, aku gak bisa main bas !" sahut ugun.
" mudah atuh bas mah, gun..." jelasku. " cuma dipetik empat senar atas, kalu di gitar akustik..."
"oh gitu..."
"iya... nyantei aja.... belajar bareng deh..." jawab aku. padahal, suer... aku juga belum tahu kayak apa bas elektrik itu. aku cuma tahu bahwa untuk main band itu minimal ada pemain gitar, pemain bas, dan drummer. juga vokalis yang tugasnya teriak-teriak...

"eh, vokalisnya siapa ?" eka seperti baru keingetan.
" iya, siapa ya?" sambung aku. bingung juga karena semua merasa tidak berbakat untuk urusan suara dan urusan bergaya jadi frontman kalau nanti band kita beneran manggung. nyanyi di depan kelas aja semua pada tahu nggak ada yang pernah bener-bener sebagai penyanyi. hanya mengejar nilai dari guru kesenian dan biasanya kalu gak nyanyi lagu perjuangan, nyanyi lagu daerah. dan gayanya semua sama. gaya dipaku. sementara guru kesenian udah maklum dan angka 7 dirasa cukup sebagai hadiah udah mau ke depan kelas.

"ya udah, sementara vokalisnya kita semua saja..." ujar opik. " yang penting musiknya dulu bisa kompak..."
"iya, sekarang nama band. apa?" tanyaku pada semua.
semua berlagak mikir. ugun memandang jendela. opik senyum-senyum gak jelas. aku udah kepikiran satu nama tapi masih disimpan. yang agak serius eka.
" apa, ka?" tanyaku pada eka. teman sebangkuku semenjak kelas dua ini biasanya punya ide bagus.
" sok,.. yang lain dulu..." jawab eka sambil tetap mikir.
" bagaimana kalau anata..?" kata opik tiba-tiba.
" apaan, itu?"
" kependekan dari anak 3 A?" jawab opik penuh harap. " kan kelas kita, kelas 3 A"

emang sih kita anak kelas 3 A. tapi pik, itu terlalu sederhana, kalau gak dibilang terlalu apa adanya. kita kan lagi bikin band, bukan bikin geng kelas. pikiran kami selain opik mungkin sama.

" jangan itu deh,..." aku langsung menolak "... yang rada keren dikit.." lanjutku. opik diam. yang penting aku udah urun pendapat, pikirnya.
" bagaimana, kalau 'amazing'?" dengan ragu aku lontarkan juga nama itu. suer, yang keingetan saat itu adalah spiderman, komik strip spiderman di sebuah tabloid.
" terlalu inggris, yan..." sahut opik seperti bisa membalas tolakannya tadi.
" ya, udah... apa dong? aku cuek aja. tadinya juga gak terlalu berharap.

semua berlagak mikir lagi. ugun mengajukan sebuah nama dan juga kami tolak entah dengan alasan apa.

"ditingker !", tiba-tiba eka bersuara.
" apa, apa?" tanya kami
" thinker... the thinker, pemikir " jawab eka
" heueuh, alus..alus... ada unsur basa sundanya..." tambah opik.
" setuju, lah..." aku juga meng-okekan
" jadi namanya the thinker band..?" tanya ugun
" gak usah pake band, the thinker aja..." jawab eka yang kelihatan senang idenya diterima kawan-kawan lainnya.
" iya the thinker... bagus" sahutku sembari menulis kata itu di kertas kosong dan membuat semacam tulisan simbol seperti grup-grup metal pada jaman itu. langsung saja di otakku mampir simbol-simbol tulisan keramat nama para band metal seperti tulisan metallica atau slank periode awal yang simetris dan menjadi trade mark band-band tersebut. akupun memodifikasi kata the thinker sedemikian rupa dan memperlihatkannya pada anak-anak lain. anak-anak cuma mengangguk-angguk, entah setuju entah bingung.

" eh, tapi kalau mau ngeband itu, gimana...?" tanya ugun
" ya rental... nyewa studio..." jawab opik
" dimana?" tanya aku yang juga masih blank dalam masalah beginian.
" nanti lah... kita nanya ke si taher, dia kan anak band...katanya sudah sering manggung.." jawab opik kalem.

taher adalah temen kami beda kelas. bagiku dan ugun dia teman juga dari sd. kami geng-gengan ama taher waktu sd. dan aku tahu juga bahwa semenjak sd taher udah pandai maen gitar. pas smp dia main band. nama aslinya bagus, erwin. alasannya jadi taher. kayaknya langsung aja nanti ditanyain sendiri sama orangnya deh. he he gak enak.

" kamu juga bisa nanya-nyanya, yan ke si taher untuk urusan gitar-gitarnya kalau gak ngerti..." jelas opik kini tambah sok tahu. secara dia emang pernah sekelas sama taher dan memahami bahwa taher adalah pemain band yang udah jadi.
"iya..."

hari itu, pada jam istirahat, ditetapkan band the thinker resmi didirikan oleh empat personilnya yang belum bisa main musik apa-apa.

Kamis, 04 Juni 2009

presiden dan notonogoro



masih ingat, notonogoro? bukan yg desainer itu, lho,

tapi yang ramalam urutan pemimpin itu. entah siapa

orang yang masih percaya dengan ramalan itu. sebelum

pada bingung saya kasih penjelasan bahwa notonogoro itu

adalah kata-kata ramalan jayabaya di masa kerajaan

yang menyatakan bahwa negeri ini (entah di mana

batasannya pada jaman itu) di masa depan akan dipimpin

oleh orang-orang yang namanya mengandung unsur-unsur

no to no go ro.

di abad ini orang-orang negeri ini sebelum reformasi

(dan juga setelah) dari peramal hingga tukang tipu

dengan yakin percaya (?)bahwa ramalan tersebut ampir

bener. no nya dari sukarno. to nya dari suharto. tapi

pas no nya pada bingung. siapa ya? dulu diramalkan

sutrisno yang pernah jadi wapres itu. tapi sutrisno

ternyata gak jadi presiden. malahan habibie yang jadi

presiden. artinya gak ada unsur no -nya.

tapi-orang-orang negeri ini lebih pinter. pinter berkelit,

mencari pembenaran dan juga mencari alasan. maka

habiebie gak dianggap, karena cuma setahun dan juga

dalam keadaan darurot bukan melalui pemilu. harus

masuk nih unsur no. kebetulan presiden yang keempat

yakni gusdur ada unsur no nya. yup, beliau adalah asli

orang nu, yang pada jaman baheula singkatannya adalah

no (ejaan lama, u = oe). hore, cocok dengan ramalan

mang jaya.

selanjutnya orang-orang yang gak ada kerjaan di negeri

ini tadi, semakin merasa mendapat durian runtuh ketika

unsur yang keempat dari notonogoro yaitu go kembali

cocok tatkala megawati naik tahta menggantikan gusdur.

menurut mereka megawati ada unsur go nya yaitu dari

kata mega. gak apa-apa beda sedikit antara a dan o.

kata mereka, sama temen ini. semakin mendekati nih.

urutan yang kelima atau terakhir adalah ro. langsung

saja orang berpikir, pastilah amin rais. tokoh reformasi

ini secara memang ada unsur ro nya meskipun sedikit

maksa. sekali lagi, kata mereka, sama temen gak usah

dipermasalahkan beda huruf dikit mah. ditambah lagi

pada pemilu lalu pa amin dengan mantap mencalonkan diri

sebagai presiden meskipun suara partainya rada

mencemaskan. tentu orang sekaliber pa amin mencalonkan

diri sebagai presiden bukan karena percaya dengan

ramalan itu dan namanya masuk nominasi dari unsur ro.

pak wirantopun kan kalo namanya masuk nominasi karena

ada ro (ra) nya. saya yakin mereka mencalonkan diri

karena memang ingin mengabdi saja kepada bangsa.

tapi apa yang terjadi di pemilu itu? ternyata, baik pak

amin maupun pak wiranto tidak berhasil jadi presiden

bahkan mereka kalah di babak pertama. setelah itu

sayapun tidak tahu bagaimana nasib para

notonogorois-notonogorois tadi. karena presiden

selanjutnya sama sekali tidak memiliki unsur ro dalam

namanya. wakil presidennyapun tidak.

tapi my pren, mereka tetep gak mau kalah. dengan

sedikit trik mereka berkelit bahwa presiden yang

kelimapun (atau keenam kalo habibie diitung) memiliki

unsur ro. heueuh bener... partainya kan partai

demokrat. ada tuh unsur ro nya. jadi menurut mereka,

ramalan itu bener banget. susah juga ngadepin orang

kayak gini....

karena semua unsur sudah terpenuhi, maka kata mereka,

kasus ini ditutup saja dan tidak ada ramal meramal lagi.

untuk selanjutnya kita pilih presiden berdasarkan hati

nurani saja bukan ramalan. nah saya setuju itu...

tapi,hmm ...waktu tahun 99, yg menang PDIP,

presidennya bukan PDIP. ketika tahun 2004

pemenangnya golkar, presidennya bukan dari Golkar,

tahun 2009 pemenangnya Demokrat, presidennya....

hayo siapa? eit, gak ada ramal meramal lagi....tunggu

aja sebulan lagi....

(maaf, hanya iseng di kala pikiran error...)

Rabu, 03 Juni 2009

fb poetri 2

ini aku. ini masa lalu. ini masa depan. ini saat ini. ini keinginan. ini kemampuannnya. ini perang. ini kekuatannya. ini lawan. ini strateginya. ini kawan. ini koalisinya. ini kekalahan. ini komprominya. ini aku. ini waktunya. ini akhir waktunya.....
**

aku menamakannya monolog. saat semua orang sedang tertidur lelap bahkan para penjagapun entah mengapa malam ini pulas mendengkur. saat hening dan para penjual makanan di tenda pinggir jalan telah merapikan dagangannya semenjak tadi, menghitung untungkah hari ini atau sama saja seperti hari kemarin. saat di langit bulan disaput awan. saat mata ini sukar untuk pejam. saat ingatan di suatu entah. saat aku terkenang kamu. aku menamakannya monolog, hanya monolog....

**

berharap sedang di rumah, menonton tivi, mendengar keluh istri tentang susu kaleng yang hampir habis, melihat cerianya anak dengan mainan sederhana, melihat politisi berdebat yang meski tak kumengerti tapi bisa menghibur, mengantar anak tidur, dengan beberapa rencana bersama istri bila uang gajian tak tepat waktu lagi, membaringkan diri, melamun, merenung, balas dendam atas segala lelah seharian, menunggu kantuk datang tiba-tiba.
berharap sedang di rumah, ....dan tidak di sini dengan setumpuk ketikan yang harus diselesaikan secepatnya.

***

fb poetry 1

meski juni ini terasa panjang. hari yang membentang tetap mengisyaratkan sang elang untuk terus bertualang. sayap terluka, lelah, dan airmata takkan pernah padamkan rasa berjuang. hidup tak bisa ditawar dengan sedu sedan. hidup juga tak bisa ditukar dengan ratap putus asa penantian. terus saja berjalan, terus saja mencari jawaban.....

***

seperti katamu, waktu akan datang, tapi tak bisa menunggu.ia hanya menyediakan detik, itupun cuma satu. sementara aku masih berhias, menyiapkan bekal, menyusun isi tas, menghapal peta, mengingat nama, mencari hadiah, memikirkan kalimat pembuka, dan menyediakan diri untuk dimaki. masih katamu, itupun cuma satu.....

***

just saving

tentang kerjaku yang sekarang : kantor yang aneh, teman-teman yang aneh, pekerjaan yang aneh. ada saatnya lembur semalaman, sibuk foto copy, berlembar-lembar print out gagal, menjilid dokumen tebal-tebal. siang dan malam sudah gak begitu jelas. kemudian senggang datang : game online, jual barang maya, sibuk fesbuk, download gratisan, atau tidur seharian. cara hidup yang aneh... untunglah akalku masih sehat : pulang ke rumah, menghampar tikar di taman, menemani istri berbelanja, dan bal bla bla

**

dulu...duluuu sekali, ketika masih kerja di marketing, ketika setiap hari tugas di luaran sambil main ke mana-mana seputar bandung dan sesakali dicurigai satpam ketika bermarketing serta masih bisa pulang ke rumah di saat makan siang sembari berleha-leha sebentar lalu ke kantor lagi hanya untuk ngabsen, sempat berpikir "enak ya, kerja kantoran, di depan komputer, nggak panas, nggak cape, nggak dikejar target.....".sekarang ketika kerja di depan komputer dan bebas berfacebook atau game online di saat tugas,serta nggak kepanasan atau diusir satpam berpikir juga, " enak ya, kerja markerting, maen keluar,nggak ngurus tumpukan ketikan, nggak boring, bisa ke rumah dulu, bisa nitip absen...."

**

tenyata udah tanggal 25 juga. nggak kerasa ya? (hm, padahal tiap hari diperhatiin tuh kalender... bisa-bisanya bilang ga kerasa, ya?). dan ?.....sepekanan lagi kan pada gajian. atau malah ada yg hendak gajian hari ini or 2 hari ke depan? selamat deh....jadi ingat jaman dulu waktu masih di kantor lama. gajiannya tiap tanggal 27. seru juga gajiannya nyuri start kayak gitu. tapi kebahagiaan gak berlangsung lama, pren. tujuh hari kemudian udah pasti pikiran bingung lagi. kalo orang-orang bingungnya ditunda hingga tanggal belasan. ini malah tanggal satuan udah stress. jadi enakan tanggal berapa ya gajiannya? atau gajiannya 2 kali aja? "boleh", kata si bos... "tapi dibagi dua...." yah, sama aja.udah, yg penting mah dicukup-cukupin dan nggak boros. dan bersyukur dengan apa yang ada. selamat menempuh hari-hari menegangkan (eh, menerima gaji menegangkan ya?)
33.... masih setia dengan peran sebagai diri sendiri dan membiarkan perasaan tertipu mentah-mentah oleh keajaiban yang akan datang. sementara belum juga sadar sepenuhnya dari mabuk tak bertepi bahwa jalan di depan semakin panjang, berliku, penuh karang, mendaki, dengan kiri kanan menganga jurang. dan yang paling parah masih belum siuman dari mimpi-mimpi tentang pendaratannya di planet venus suatu hari nanti.....