Senin, 09 Maret 2009
GITAR LISTRIK
Gitar listrikku adalah perjalanan bermusikku di masa lampau. Di masa jayaku sebagai gitaris asal dari kafe-ke kafe kecil. Lalu waktu berbicara lain, aku bekerja, dan menikah. Dan kini punya anak satu. Secara gitar mau dijual saja sebagai modal kerja. Namun entah mengapa ketika mau ada yang beli, dia gak jadi. Akhirnya gitarku kesepian lagi di pojok kamar.
Gitar listrikku kubeli di uber tahun 99 an. Bersama jojo, waktu itu. Magrib-magrib yang basah, dari gang ke gang. Dan uang 750 ribu pinjam sana-sinipun amblas. Kemudian gitar listrikku menemaniku dari panggung ke panggung. Rasa percaya diriku meningkat seiring kreativitas bermusikku yang lumayan tinggi. Dengannya aku menciptakan berbagai lagu. Tentu saja gitar bolongkupun berperan serta.
Bagiku, dia harta tak ternilai ( atau tak bernilai?). makanya, tatkala terpikir untuk menjualnya, ada sedikit ragu terbersit. Alhamdulillah, gitar itu belum terjual. At least, aku punya warisan buat anakku nanti, selain buku-buku yang jumlahnya gak seberapa. Yap, itulah alasan lainnya kenapa gita listrik itu masih betah di kamarku. Dari bandung, bertualang, ke garut nangkring di pojokan, rusak di sana-sini, dibenerin, dicobain, dibawa lagi ke bandung buat dijual, dan gak laku-laku karena masih mikir-mikir jual jangan ya. Itulah gitar listrikku.
Kalo boleh jujur sih, sebenarnya aku gak cukup lama dengannya bertualang. Tapi rasa cinta tidak selamanya diukur waktu kan. Gak selamanya kisah cinta terjadi berdasarkan witing tresno jalaran suko kulino. Banyak juga love at first or second sight. Maybe this is the one.
Dan sepertinya aku bersama gitar listrikku akan bertualang lagi di musik. Ya, setelah aku kontak orang-orang lama dan nawarin proposal ngeband via sms dan direspon ok. Padahal iseng aja. Entahlah, jalan mana yang natinya harus dilalui. Yang pasti aku gak boleh egois, keluargaku di atas segalanya. Semoga saja.
Minggu, 08 Maret 2009
Senin, 02 Maret 2009
bintang jatuh
suatu malam, dulu
melihat ekor bintang benderang lantang
sayang, bukan kamu yang tiba-tiba menyergap
bintang itu, jatuh di dekat kakiku
kupungut dan kusimpan di saku belakang
kubawa kemanapun bertualang
kemarin, bintang lusuh itu
kuserahkan padamu
bersama sebuah rahasia
dan rasa lelah sehabis perjalanan
/okt 2003/
interlude
aku takut nafsu mendatangi kita berupa cinta, mempermainkan hati kita dengan tipu dayanya, menjerembabkan kita pada pekat yang tak berkesudahan, awas kekasih.
pagar yang kudirikan bukannya untuk memisahkan kita, tapi mendekatkan, biar kita selalu berusaha mencari alir yang suci untuk bertemu. karena rindu selalu menelusuri jalannya sendiri, semakin jauh, semakin harap, semakin hidup ia dalam avonturirnya.
duhai, betapa indah pagi
secangkir teh hangat dan sulur senyummu, kekasih.
/2 okt 2003/
senjaklasik thepoetryprose 5
sudahi saja november ini. ia tak lagi bersahabat. ia tak mau lagi bercerita. padahal seribu sajak kupersiapkan untuknya. seribu macam kembang kutaburkan di pintu masuknya. seribu kupu-kupu kusuruh menyambutnya sambil bersalto di udara.
sudahi saja november ini. dia tak lagi temanku. semua sapaku tak dijawabnya. semua rinduku tak dihiraukannya. padahal telah kupinta awan menari di hadapannya, telah kumohon bulan berpura-pura suka akan kehadirannya, telah kuundang semua senja termanis menjadi rias harinya.
sudahi saja november ini. lalu, biarkan hujan menggantikannya menemaniku.
degup itu
tidak, itu bukan salahmu, kamu tak pernah bermaksud mengulangnya bukan ? kamu hanya singgah sebentar seperti biasa dan bila kemudian kenangan merayuku, itulah kelemahanku yang belum mampu kulawan.
tapi bila degup itu terus ada, kamu mau kan sejenak mendiamkannya. memberinya semacam pengertian agar ia tak tenggelam dalam gelombang bimbang.
bertanyalah padaku
bertanyalah padaku, maka aku akan menjawab bahwa aku baik-baik saja. lalu kamu akan bertanya lagi meyakinkan perasaanmu, dan aku penuh mantap akan menjawab bahwa aku baik-baik saja, tak ada yang harus dicemaskan. kemudian menyuruhmu meninggalkanku, sedikit memohon hingga kamu betul-betul menghilang di balik pintu.
sekali lagi bertanyalah padaku, maka aku akan menjawab bahwa aku merasa lebih baik kini, hari-hariku kusibuki dengan bermain solitaire dan meramal hujan. mungkin kali ini kamu akan diam saja, tapi bertanyalah padaku dan aku akan menjawab bahwa aku juga menggambar sketsa wajahmu saat aku mengingatmu, namun kamu tak mungkin bisa melihatnya karena aku melukiskannya di dalam angan agar ia tak luntur tertipu waktu.
Melihatmu di mimpiku
melihatmu di mimpiku,
engkaukah itu
hey....
duh, susah sungguh menggapaimu
trust
to say i love you, to say i care you, to say i wanna be by your side, to say i will wait, to say i will protect, to say i'm alone without you, to say i need you. to say i do i really do.
year after year, month that gone by, week that i never make it perfect, all day that not enouhg, every hour that so fast. in minute a see you. of course a whole second i breath the air with you.
trust. always hurt you. the river of tears in your eyes. sad and happy that not equal. my mistake. everything is my stupid idea. brain that never make you bright and find a way.
trust again. narrow path, and you followed me even i brought you to a place without light. made me laugh, made me happy, sometimes like evil, sometimes i'm evil. you called me angel.
poor. you are poor person, but i am poorer than you. i'm a dumb that always feel genius. i'm a liar. i lost in space, lost in universe, lost in words and its translation.
so this is trust. if you pick me up from here and give your forgiven. all apologies. if that chance is still there. if your heart still open. if your arms wide open to hold me. if your smile.
this is trust. all i can say to you is never enough.
selamat malam, malam
berhentilah, malam sudah pekat, dan ini saat tepat untuk berbaring. besok masih waktu. hari ini cukup sudah. semua kata tak akan menguap karenanya karena gairahmu itu sudah menyatakan segalanya.
tutup buku dan pejam mata, biar keingintahuan dan kepenasaranmu tergosok mimpi. besok masih besok. bila besok bisa kau runtuhkan itulah kemenanganmu. malam ini musuhmu telah kalah telak. dan ia belum mampu lagi bangun untuk melawanmu. tak malukah bertinju dengan lawan yang terdiam.
rapikan meja, matikan lampu, dan siapkan selimut serta bantal, maka lengkap sudah kemenanganmu hari ini. sambil menuju lelap susun langkahmu di angan. bila besok masih berkenan, dan dia menantangmu dengan senjata baru yang super canggih, artinya dia ingin mengajakmu naik tangga dan terbang ke tempat lebih tinggi. melihat pemandangan indah, menghirup udara murni, menyegarkan mata, membukakanmu cakrawala.
berhentilah segera, sekarang saatnya istirahat. ucapkan selamat malam. 'selamat malam, malam'.
epilog
selalu saja ada keriuhan di dada tatkala aku tak sengaja jumpa seseorang yang selalu bermain-main di kelopak mata. sebuah kekhawatiran berlebihan, bahkan berubah menjadi ketakutan, karena sebuah pertemuan bagiku hanya akan mengekalkan perpisahan. dan itu pedih, membuat pilu selalu berpanjangan, merambat perlahan, menikam pelan-pelan menuju jantung. hingga ough!! aku akan terbangun, berharap mimpi ini tak menghantui lagi atau segera saja kenyataan menjadi.
senjaklasik thepoetryprose 4
perasaan ini. kita harus mulai menipunya, menganggapnya tak pernah hinggap, menjadikannya sebuah kabut saja yang akan segera hilang begitu surya datang.
karena kita harus menguburnya. mengibaratkannya sebuah mimpi saja yang akan terlupa ketika kita terbangun. menyepertikan bahwa tak ada yang pernah terjadi antara kita. berpura-pura itu semua bukan kita yang memerankannya.
lalu kemana aku pergi dengan semua kisah ini ? do you feel the same, saat terasa berat untuk memulai langkah pertama. sementara nafas sepertinya tak rela dan hembus keterpaksaan tak terelakkan juga ? do you feel the same, as i do feel now ? ketika hari-hari sangat rapuh untuk dijejaki, hingga kita harus hati-hati meniti agar tak terperosok seperti yang pernah teralami.
sepertinya, kita harus semakin rajin menipu perasaan ini, hingga kita percaya bahwa kita tak pernah mengalami semua ini. do you think the same ?
di tempat kita bertemu dan berpisah
di tempat kita bertemu dan berpisah ada yang tertinggal dan terlupa kita bawa. kenangan. entah mengapa kita meletakkannya begitu saja di pinggir jalan lalu membiarkannya berserakan disapu angin. lalu lihatlah, udara kita dipolusinya hingga memenuhi langit. namun tak juga lenyap meski malam kian senyap dan langit tertaburi bintang.
kenangan. kenapa tak kamu bawa saja, simpan di saku baju atau kamu sihir dulu menjadi batu biar tak mudah dihempas kerisauan seperti yang sedang kurasakaan saat ini. atau kamu sembunyikan di balik lengan bajumu agar aku tak selalu melihatnya sebagai tugu tatkala harus melewati lagi tempat kita bertemu dan berpisah.
bening
aku menatapmu embun pagi, aku menghirupmu udara murni, aku merasakanmu lekat di hati. langit seri karenanya, bunga semi karenanya, seekor kupu pun sekejap melupa kisah pedihnya yang tiada peri.
mata bening, aku memasuki retinamu, menuju vena, merambati alir nafas, berputar-putar di kedalaman jiwa. berteduh di kehangatan tuturmu.
oh, tak mudah menerka hendak ke mana kamu bawa aku di perahu laju ini. aku pasrah saja, mengikut ke mana arahnya kayuh. biar, di buritan ini aku kan memandang diriku di bening matamu. hingga kamu pejamkan mata saat kita tiba di tempat cerita bermula.
12 tahun
"
apa rasanya, 12 tahun dikagumi diam-diam seseorang di saat kamu ingin ada dia yang menjadi tempat memahami seluruh kata yang tersendat tak sanggup terlontar dan uraian jawab segala tanya, sementara kamu tak mungkin lagi memercayakan diri pada hembus angin di sisimu.
apa rasanya, 12 tahun menanti tangan terhulur untuk mengajakmu berlari dari kesendirian dan keterasingan padahal semua yang di sekelilingmu sangat harap kamu segera membuka jendela, menyapa pagi, meliarkan senyum, berbincang tentang mimpi semalam, dan memenuhi hari ini dengan seluruh warna yang ada.
apa rasanya, 12 tahun melukis potret kehidupan penuh warna, membingkainya seindah mungkin namun tak kamu gantungkan di ruang tengah dan hanya disimpan di sudut kamarmu karena merasa tak mungkin dia yang kau inginkan hadir akan menyukai paduan warna-warna pada kanvasmu.
apa rasanya, 12 tahun memaknai puisi sedemikian tinggi padahal semua kata-kata begitu mudah kamu terjemahkan ke dalam gerak keseharian, ketika segala rasa yang mampir adalah rasa sesungguhnya, bukan lagi metafora yang harus ditafsirkan sehingga kamu tak sempat lagi mengakrabi kesederhanaan dan kepolosan takdir.
apa rasanya, 12 tahun larut dan hanyut terombang-ambing dalam samudera resah, menggapai-gapai pegangan, berharap ada biduk yang akan menyelamatkanmu dan membawamu ke suatu pulau terdekat.
apa rasanya, 12 tahun menimbun cinta hingga ke lapis bawah tanah karena khawatir durinya menggores hatimu dan membuatmu jatuh padahal merah mawarnya lebih elok untuk kamu pandangi dan selami.
apa rasanya, 12 tahun berkelana mencari jejak, menyusur pantai, menerobos hutan, memanjati gunung kehidupan padahal kamu tahu bahwa kembalimu ke kota yang itu lagi, tempatmu mengawal perjalanan.
apa rasanya, 12 tahun tak menikmati tawa dan tangis sewajarnya karena selalu kesedihan dan kegembiraan itu kamu simpan di balik awan kelabu hanya sekedar biar ia lebur bersama hujan yang selalu mengganggu senja yang kau impikan.
apa rasanya, 12 tahun duduk di bangku taman, memandang bocah bermain bola sementara kita memainkan perasaan dan endap semua khayal karena prasangka diri kita tak punya daya untuk sekedar berjalan pulang.
apa rasanya, sendiri di tengah malam, di tengah hutan, di tengah gelap, di tengah hujan deras, di tengah senyap.
apa rasanya, dipenuhi rindu, dijejali rasa, disesaki angan, dihujani keingintahuan....
apa rasanya, 12 tahun memuja penantian dan tiba-tiba semua pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya,
apa rasanya ?
pelan-pelan aku mencintaimu
seperti evolusi, maka aku pelan-pelan mencintaimu, tanpa suara, tanpa kata, bahkan nafaspun kutahan. aku tak ingin kamu mendengarnya ataupun merasakannya. aku hanya ingin menjadi bayangan dirimu, merayap mengikuti langkahmu, menjadi teman sejatimu mengawani kemana pergi.
begitu pelannya aku mencintaimu. hingga tanpa gerak, tanpa kedip mata. hanya getar yang terus merambat menuju pusat.
begitu pelan, dan aku sekejap menjadi udara di sekitarmu, yang tak terasa namun ada.
peuting ieu
peuting ieu kuring hayang ngimpikeun anjeun. da anjeun mah ngan bisa diimpleng dina impian. di alam nyata mah hese kacida ngararasakeun anjeun teh. kaburu dulagna hate tatalu manten. kaburu jadi gempa, geter rasa teh.
nya peuting ieu impian teh rek disorang wae. meungpeung euweuh bentang nu nyeraban nu ngahalangan ieu pikir ti ingetan ka anjeun. anjeun mah sing anteng weh di dinya, da moal lila ieu impian teh. lamun geus kapunahan ieu gerentes hate, jig we indit deui. bral, teangan kasuka anjeun teh. ngan, isuk peuting ditungguan deui, dina impian sejen.
rain fall again
hujan lagi. dan kita masih tak berdialog juga. masih setia di dalam keheningan pikiran masing-masing.
rintik itu kemudian membesar membanjiri setiap helai hati. di setiap sudutnya, aku mengurung murung sambil mencemaskan detik-detik yang tak juga mengajakku beranjak.
melewati gorong-gorong kenangan. sesekali berhenti, menghangatkan tubuh di depan tungku. membiarkan gemeretak gigi di sela kedinginan sambil terus berharap hujan segera pergi diiringi pelangi.
tapi hujan itu masih. dan rasa kantuk telah menyerang. ingin segera melupakan semua ini sejenak. semoga mimpi itu datang lagi untuk menemani
bidadari
bidadari berdiam di matamu, memperhatikanku, membuatku malu tak bertepian, namun rasa senang menyelinapi hati hingga tanpa getaran, mungkin sambil berjingkat dan tahu-tahu sudah duduk dengan manisnya.
jangan dulu terbang, sebentar saja temani angan ini sampai terpuaskan meskipun hanya sejenak dan tak abadi. sesuatu di diammu itu melukiskan banyak perasaan dan ingin kupahami segera.
bolehkan aku tinggal di hatimu ? aku berjanji tak akan melukai hanya melintas biar keingintahuan ini terlunaskan sebelum kesadaran menjadi pembatas dan memisahkan aku darimu.
bidadari, aku akan menunggu meski harus ikut membeku menjadi batu.
kembali , mengkonversikan mimpi
lingkaran ini. aku di dalamnya belajar tabel-tabel kehidupan, menghitung angka-angka horizontal vertikal. lalu tenggelam di antara kenyataan dan mimpi. mencoba bertahan dengan sisa-sisa oksigen di antara reruntuhan angan. ingin rasanya mengusik kenangan bisu yang berjalan terpatah-patah dan gambar hitam putih yang semakin memburam.
tentang suatu hari yang kian laju diburu waktu. tentang betapa susah mengkonversi kenyataan menjadi mimpi lagi. saat variabel pembantu tak juga menyiapkan jawab yang memudahkan melompat menuju pintu. ditemani cemas bahwa kenyataan ini akan segera menjadi kabut begitu saja, sementara selangkah demi selangkah mimpi mulai mengendap menjauhi.
tak mudah menyusun mimpi. tak mudah merangkaikan bayangan maya yang mau mengalirkan sepi menjadi terasa basi dan biasa. karena lingkaran ini tak juga berputar agar aku kembali ke titik mula, ketika mimpi hanyalah mimpi. sekilas harapan yang membersit hanyalah gerak tipu yang kemudian mengantarkan pecundang ini meratapi perih setiap kali silhuet hari itu tiba-tiba tergambar di hadapannya.
begitu hening mendekapmu
¤
begitu hening mendekapmu, maka meleburlah bersamanya. biarkan saja, dia hendak membawamu terbang, menyusuri langit malam, menatap wajah galaksi lebih dekat, dan membersihkan semua duga yang melelahkan hari-harimu itu. karenanya pejamkan saja matamu dan jangan berpikir dulu. kini relakan isi hati yang berkelana hingga dia menemukan satu planet sebagai rumah singgah. undanglah sebuah bintang dan dengarlah apa yang hendak diungkapkannya tentang sinarnya yang telah padam berabad silam. mungkin kau temukan kata-kata bijak darinya yang bisa menentramkan keresahan yang sering mengganggu tidurmu. sepulang bertualang, jangan dulu biarkan hening berlalu. mintalah dia mendekapmu lagi hingga lelap yang datang memembasuh seluruh keluh dan rasa yang mulai rapuh.
besok. di waktu dan tempat yang telah bergeser, hening akan kembali mengajakmu bertualang menjelajahi sisi-sisi asing di belantara hatimu, namun yakinlah dekapnya membuatmu tak merasa sendirian lagi.
itu
`
Betulkah kamu mau berlalu saja, tidak tertarik menjadi lagu, menjadi buku, dan memilih batu sebagai persembunyianmu ?
Betulkah kamu mau lari saja, tidak tergerak untuk bernyanyi, menemukan mimpi, dan mengisi hari dengan suatu hati ?
Betulkah itu ?
_
kawan datang, kawan pergi
setelahmu, ada yang mengisi rongga dan menjadi udara di sekitarku. darah yang hendak beku itu seakan kembali hangat dan menjelma arus yang mengalir melalui celah-celah sunyi yang selama ini kujadikan persemedian untuk melarikan diri dari sebentuk cemas.
ada yang datang kemudian, membuat semua sepi ini mati suri. kawan datang membawa bulan dan kunang-kunang. diantarkannya sebilah terang membuka rasa penuh warna dan bercahaya. hidup sedang bermula lagi, menyediakan nafas pertama yang segar dan beraroma.
setelahmu, kawan datang menawarkan makna. rupa-rupa tanya bermetamorfosa menjadi kosakata sederhana, puja doa, dan juga tanda. perjalanan tak lagi tunda. kembali, roda beranjak menarik asa penuh setia melewati deretan jeda.
setelahmu, kawan pergi membawa api melupa pagi. kawan pergi jauh berlari hilang sembunyi. tapi, kawan pergi menjejak arti.
seandainya, aku begitu merindukanmu
seandainya, aku begitu merindukanmu hingga tumpahlah perasaan menggenangi hari-hari dan malam, detik dijejali hingar bingar suaramu dan mengacaukan isi kepala, sementara aku tak tahu apakah kamu saat sedang menulis sajak atau jauh di dalam mimpi. mungkin aku akan tetap menjadikan rindu itu sebagai benteng pertahanan dan keselamatanku dari hembus dingin yang saat ini entah mengapa menyerangku dengan tiba-tiba.
seandainya rindu itu terus menempel, menyengat dan meracuniku, lalu menjadi parasit tanpa kusetujui, aku akan bertahan melewatinya meski ia menjadi luka yang akan semakin menganga dan penuh karat. aku ingin kamu tahu, rindu itu begitu berharga bagiku dan menjadi obat bagi luka itu sendiri, menjadi lagu bagi sepi yang terus memenjarakanku tanpa pembelaan yang pasti.
tapi, seandainya aku hanya bisa menjadikanmu kerinduan yang tak juga menepi, kerinduan yang basa-basi tanpa menjadikannya sesuatu yang berarti dan sejati, atau hanyalah duri yang menghalangi hangat mentari yang selalu dinanti, maka aku akan menghilang seketika itu juga tanpa meninggalkan jejak dan bau yang mungkin membuatmu terkenang atau merasa bersalah.
senjaklasik thepoetryprose 3
.
tidak seperti majnun yang menciumi dinding rumah laila, maka cukup bagiku dengan hanya bersepeda di depan rumahmu sambil berharap kamu kebetulan sedang menikmati senja menyiram bunga. ya, tidak seperti majnun yang menciumi dinding rumah laila, maka terasa hebat bagiku dengan melihat genteng rumahmu dari kejauhan karena takut kamu memergoki kepengecutanku yang akan segera gugup salah tingkah seandainya harus menatap matamu. sungguh, tidak seperti majnun yang menciumi dinding rumah laila, aku hanya berani berlama-lama menatap jendela kamarmu di ujung malam, saat kamu mungkin tengah terlelap dibelai mimpi dan aku akan puas sekali setelahnya lalu buru-buru berlalu sebelum derit pintu terdengar.
6
untitled
belum ada lagi kata untuk dibicarakan, saat ini. diam saja dulu dan pejam mata. jangan berpikir ! itu hanya membuat resah tergugah tidakkah ingat, saat pertimbangan akal terlalu mendominasi otak kiri kita, kita akan terburu-buru menutup buku, merapikan bangku, dan begitu saja berlalu. padahal sesampai di rumah kita merasa ada yang terlupakan. sesuatu yang kita siapkan sebelum bertemu.
diam saja dulu. biarkan sepi-sepi ini beradu dan saling mengadu. sementara kita, diam saja dulu.
sepi
8
semua sepi yang pernah tercipta dalam hidupku, biarlah kamu saja yang menjadi alasannya. kumohon tak kamu tertawakan ungkapan kelewat bodoh ini. hanya ini obat kesunyian satu-satunya yang bisa menghiburku dan menyemangatiku menjalani hidup. di tengah kegalauan hati yang tak menentu, wajahmu yang melintas ibarat infus yang menambah cerah langit hati yang sebelumnya pucat pasi.
segala rindu yang pernah tercipta di keramaian waktuku, biarlah kamu tempat aku menuju. tempat aku berharap seseorang menyediakan senyum hangat yang menyegarkan dan mau mendengar cerita tak penting di perjalanan pulang tadi. semoga ini bisa menjadi pengantar tidurmu nanti.
seluruh malam yang pernah menjadi teman baikku, yang sering kusalahpahami sebagai deraan tak bertepi biarlah kamu saja yang menyederhanakannya menjadi sebuah taman, di mana aku kan selalu merenung mengenang pengalaman. ini lebih menyejukkanku ketimbang menjadikannya suatu pertarungan tiada henti. ini lebih menentramkanku daripada meraba-raba pembenaran untuk menghentikan perjalanan ini.
È
message sent
terkirim, dan tak perlu menunggu balas, tak perlu ada cemas, tak harus menyiapkan hias. semua pesan hanyalah untuk penanda bahwa aku selalu ada untuknya. bahwa dia senantiasa menjadi pusat pikiranku di sepanjang waktu. tentu saja aku mesti menyadari untuk tidak mengharapkan lebih dari ini.
message sent, sekarang aku boleh bernafas lega, terima kasih pulsa, terima kasih teknologi, terima kasih telah mengantarkan aku pada kekasihku meski aku hanya bisa menatap dari kejauhan saja sambil membayangkan apa kira-kira reaksinya saat membuka kata-kata tanpa makna yang kulayangkan.
terkirim, saatnya mematikan hp. saatnya memasuki mimpi lagi, mengenyahkan kenyataan yang harus disisihkan dari duniaku. menjadikannya mimpi adalah kenyataan terbaik seperti yang diinginkannya dan aku telah berjanji untuk itu.
message sent, tidur saja ! dia tak mungkin sedang memikirkan kata jawab. agar tenang, bayangkan bahwa dia telah terlelap dan hanya mungkin membaca pesanmu esok shubuh ketika kamu telah melupakan apa rangkai kalimat busa semalam tadi. bukankah sudah janji untuk berhenti berharap ?
terkirim. angin, tolong lampirkan juga : "tak perlu dibaca, delete saja langsung....!"
t
kapan kamu pulang ?
kapan kamu pulang ? aku menyediakan kembang. akulah kumbang yang mengamati hari, berduka atas berlalunya waktu, dan menyimpan cemas bila kamu tak jadi datang. kamu pasti pulang kan ? si pengecut ini telah terjebak di kubang angan. tak henti mencoret turus-turus kenangan. ingin mimpinya jadi kenyataan. ingin suatu perjumpaan.
segeralah pulang, aku menyediakan ruang, aku menyiapkan waktu terentang, aku berlama-lama menunggu di beranda bersama sepuhan harap yang tak pernah pudar hanya untuk sebuah bayang atau segenggam cerita yang mungkin akan membuatku sedikit tenang.
setengah diriku
Z
setengah diriku entah di mana. adakah dia sembunyi di belakangmu. karena ketika kurasakan senyummu itu seolah sebentuk gaya menariknya lepas dari diriku. bantu aku temukan setengah diriku. karena padanya ada seluruh rahasia yang tak ingin kuungkapkan pada siapapun.
setengah diriku mungkin sedang di satu tempat. adakah setengah diriku sembunyi di hatimu. aku dapat merasakannya dari ruang semediku. antarkan setengah diriku bila ia singgah di hatimu atau tunjukkan padanya jalan pulang. atau jemputlah setengahnya lagi di sini. biar dia utuh bersamamu.
hujan geus raat
×
hujan geus raat, ti tatadi. tapi kasedih nu nyungkrung dina hate masih keneh can saat. asa jararauh panineungan, asa aya asa euweuh ieu teh. asa hayang indit ka hiji tempat, asa hayang panggih jeung sasaurang tapi teu nyaho saha.
hujan geus raat, ti tatadi. bulan ge geus nembongan deui. ngan langit angkeb, siga nu ngarti ka diri nu keur teu puguh rasa ku tagiwurna kalbu nu can keneh eureun. aya naon atuh ieu teh ?
hujan geus raat, ti tatadi. guludug teu patingtembalan deui. tapi galura na hate mah keukeuh teu daek nyingkah. sok sanajan ngapungkeun pikir ka mana wae, masih keneh ngadodoho. sok ras inget ka hiji paroman anu pernah nyangsang ngabaturan poe katukang.
kilaumu
w
kilau mutiara, saat kamu sedang tersenyum ke arahku waktu itu, membuatku malu seperti terpaku dan tak kepikiran membalasnya hingga kamu berlalu.
setelah itu aku menunggu lagi kilaumu, dan telah bersiap sejuta cara menjadikanmu ratu. tak kunjung juga datangmu. akupun mencari, sampai kutemukan kilaumu di dasar lautan bersama sunyi bernyanyi sendu. tak mampu jua aku gapai tanganmu.
di darat sini, kilaumu tetap terasa merdu.
hidup ini menunggu....
œ
hidup ini menunggu, maka pada salah satunya aku sedang menunggu kamu. menunggu kamu bersama kamu yang lebih dulu datang berupa khayal. telah layu waktu, telah letih hari, telah bosan semua pesan, namun aku tetap menunggu kamu, menghitung seberapa helai daun-daun berjatuhan di taman kota. meneliti setiap jejak kaki yang pernah ke mari.
hidup ini menunggu, dan menunggu kamu menjadi bagian terpenting, tema yang selalu aktual, cerita paling hebat, kenangan paling bersejarah yang tak pernah ditemukan di roman-roman manapun. Betapa indah, aku menunggu kamu, menjalankan takdir dengan kadar kesetiaan seorang penunggu tanpa harus berkeluh tentang bilakah tibanya waktu itu.
hidup ini menunggu, berharap semoga kamu muncul di tikungan jalan itu dengan buah tangan berupa senyum selembut dulu. atau sekedar lambaian bahwa kamu telah tiba dengan tatap mata tak jauh beda dengan saat kamu beranjak pergi dulu.
gerimis di tengah malam
Û
gerimis di tengah malam, seakan-akan kamu merestui kesepianku. gitar tak lagi membantu. puisi hanya membuat aku membeku.
aku mengangankan pada gerimis itu ada satu tetes yang menjelma menjadi sebentuk wajah yang selalu tergambar di otakku. aku memimpikan pada gerimis itu ada satu tetes yang menjadi suara yang selalu terngiang di telingaku sebagai nina bobo menjelang tidurku. aku ingin pada gerimis itu ada satu tetes yang berubah menjadi doa yang dihantarkan seseorang yang sedang jauh dari sisiku. aku berharap pada gerimis itu ada satu titik yang meresap ke dalam tanah, menumbuhkan benih yang kutanam di taman hatiku.
gerimis di tengah malam, sebentar saja, lalu tergantikan rembulan dan kerlip bintang, aku akan selalu mengenangnya sebagai sebuah kisah panjang.